![]() |
| Ketua DPRD Kabupaten Gresik, Muhammad Syahrul Munir menerima Hasil penelitian Tim Lingkungan SMAN 1 Driyorejo tentang Program TEPAR dalam Dialog Publik FKB DPRD Gresik, Rabu (22/4/2026) |
Usulan ini berangkat dari realita di lapangan:
kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, sebenarnya sudah tinggi, namun
belum didukung oleh sistem dan fasilitas yang memadai. Ketiga Pelajar SMAN 1
Driyorejo saat ini sedang mengikuti Jawa Timur Young Changemaker Award 2026
(JAYCA) dalam menjadi wadah generasi Muda Jawa Timur untuk berkontribusi dalam
melakukan perubahan social.
Dalam dialog publik yang membahas Implementasi dan
tantangan Kebijakan Pro Lingkungan di Kabupaten Gresik, FPKB memberikan ruang
kepada generasi muda untuk menyalurkan aspirasinya. “ Dialog public ini bisa
menjadi ruang diskusi, penyaluran aspirasi dan temuan riset mahasiswa dan
pelajar untuk solusi pengelolaan sampah di Gresik,” Ungkap Imron Rosyadi, lebih
lanjut ketua FPKB menjelaskan dalam momen Hari bumi FPKB mengusulkan Kepada
Ketua DPRD untuk mengatur larangan penggunaan AMDK dalam setiap aktifitas
kegiatan yang diselenggarakan di Kantor DPRD Gresik, paperless dan menghindari
penggunaan pembungkus makanan berbahan plastik atau Styrofoam.
![]() |
| Krisna, Chantika dan Junnatun di Dampingi Siti Mutmainah, Guru Pendamping SMAN 1 Driyorejo menjelaskan hasil Survey Gen Z Driyorejo Terkait penggunaan plastik sekali pakai (22/4/2026) |
Dalam kegiatan audiensi selain Pelajar SMAN 1 Driyorejo, Ketua DPRD kabupaten Gresik juga menerima 6 orang mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya yang memaparkan temuan pencemaran mikroplastik di Kepulauan Bawean, hasil riset yang dilakukan Mahasiswa Ilmu Kelautan UINSA ini menyebutkan bahwa ikan Layur, ikan Cakalang, Zooplankto, anggur laut dan vegetasi mangrove diketahui telah tercemar mikroplastik, salah satu penyebabnya adalah banyaknya sampah plastik yang ditemukan di pantai dan didasar pesisir.
Menariknya, gerakan lingkungan di SMAN 1 Driyorejo tidak lahir dari program formal semata. Kegiatan sederhana seperti nonton bareng (nobar) video lingkungan justru menjadi pemantik kesadaran siswa. Dalam Program Jayca kesadaran lingkungan ditanamkan melalui kegiatan diskusi Nobar film-film dengan tema lingkungan “Awalnya hanya nobar, tapi lama-lama kami jadi tertarik dan ingin bergerak lebih jauh kemudian, muncul berbagai inisiatif, termasuk gerakan sampah terpilah di sekolah” Ungkap Krisna,.
Dalam kegiata JAYCA peserta secara bertahap
diberikan :
1. Pengetahuan tentang bahaya plastik melalui
kuliah online atau diskusi film lingkungan dan mengidentifikasikan masalah
lingkungan yang sedang dirasakan dimasyarakat atau disekitar sekolah dengan
melakukan pengamatan atau wawancara kepada warga
2. Kemampuan analisis Praktik langsung
untuk mendeteksi kontaminasi
mikroplastik dalam air hujan sebagai dampak dari pencemaran plastik.
Melalui kegiatan ini Peserta Jayca merasakan dan problem plastik yang sangat
dekat dengan diri mereka
3. Membuat
capaian berupa mimpi kondisi yang lebih baik yang diharapkan dan melakukan
dorongan kepada pembuat kebijakan.
4. Menyusun
aksi untuk melakukan perubahan, aksi ini di SMAN 1 Driyorejo dilakukan dengan
membuat survey tentang praktik penggunaan plastik sekali pakai oleh anak muda.
Hasil Survey ini kemudian di presentasikan kepada DPRD Kabupaten Gresik dan
Dinas Lingkungan Hidup
Upaya ini sebagai tanggungjawab warga negara untuk
terlibat dalam pengelolaan lingkungan hidup dan menjamin bahwa negara
melindungi warganya dari pencemaran, menjamin hak atas lingkungan hidup yang sehat.
Survey Persepsi Gen Z pada Bahaya Plastik Sekali Pakai
Team Jayca SMAN 1 Driyorejo dalam kegiatan
lingkungannya melakukan survey kepada Gen Z di Driyorejo dari 878 orang responden dan
hasilnya menunjukkan bahwa :
1. 98%
responden telah mengetahui bahaya plastik sekali pakai, namun penggunaannya
tetap tinggi karena faktor kepraktisan dan keterbatasan fasilitas pendukung.
Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara kesadaran dan implementasi
di masyarakat.
2. 51%
menggunakan plastik sekali pakai 2 plastik/hari,
3. Sebanyak
76,4% responden mengaku masih menggunakan plastik sekali pakai di rumah, karena
masih tingginya pengaruh orang sekitar
4. Alasan
utama penggunaan plastik adalah factor kepraktisan (45,1%) dan Kebiasaan
membawa plastik dan belum terbiasa membawa wadah sendiri (30,2%),
Dari hasil pengamatan lapangan dan survey ini
kemudian disusun program solusi yaitu berupa Program TEPAR: Solusi Terintegrasi
dari Siswa
Program TEPAR yang diajukan siswa terdiri dari tiga
komponen utama:
1. TPS3R
(Reduce, Reuse, Recycle) Diusulkan
sebagai pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat desa. Siswa
menyoroti bahwa praktik di lapangan masih belum konsisten.
“kami masih melihat Sampah dari rumah sudah
dipilah, tapi sering dicampur lagi di proses berikutnya, sedangkan di dekat
sekolah kami masih ditemukan praktik membakar sampah secara terbuka.” Ungkap Chantika
Amira Ramadhani.
2. Polisi
Sampah
Inisiatif pengawasan berbasis masyarakat dengan
melibatkan ibu-ibu, karang taruna, dan organisasi lokal untuk mengurangi
penggunaan plastik sekali pakai melalui edukasi dan pendekatan sosial.
3. Water
Refill Station
Fasilitas isi ulang air minum di ruang publik untuk
mendukung kebiasaan membawa tumbler.
“Kami melihat
di kota lain fasilitas ini sudah tersedia. Di Gresik belum, padahal ini penting
untuk mengurangi sampah plastik, hal ini juga didukung oleh survey yang
telah kami lakukan yang menunjukkan anak muda enggan menggunakan tumbler karena
tidak adanya tempat refill air atau isis= ulang.” Ungkap Krisna Wahyu Sahaja
Audiensi ini menegaskan bahwa generasi muda tidak
hanya menjadi pihak yang terdampak oleh krisis lingkungan, tetapi juga mampu
menjadi penggerak solusi.
“SMAN 1 Driyorejo ingin berkontribusi pemikiran dan
menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari hal sederhana—dari membawa
tumbler, memilah sampah, hingga mengusulkan kebijakan” ungkap Siti Mutmainah,
lebih lanjut Guru Pendamping kelompok Lingkungan SMAN 1 Driyorejo ini juga
menjelaskan bahwa momentum Hari Bumi 2026 menjadi pengingat bahwa upaya menjaga
lingkungan tidak bisa ditunda, Gresik yang bersih dan hijau tidak hanya menjadi
wacana, tetapi mulai diperjuangkan—dari sekolah, oleh generasi masa depan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar