Rabu, 22 April 2026

Laut Dianggap bank Sampah, Mahasiswa Ilmu Kelautan Uinsa Temukan Pencemaran Mikroplastik di Bawean

Gresik, 22 April 2026 —Meskipun Kecil Pulau Bawean adalah bagian dari Gresik, namun saya merasakan masih kecil Perhatian Pemkab pada pulau  Bawean terkait penanganan sampah, meskipun telah ada Perda 3/2021 tentang pengurangan plastik sekali pakai Namun praktiknya di Bawean, masyarakat masih menganggap Laut adalah Bank sampah, sehingga pesisir di penuhi sampah plastik” Ungkap Dewi Fitriana, lebih lanjut  mahasiswi yang berasal dari Kecamatan Sangkapura ini mengungkapkan bagi masyarakat Bawean, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan dan keberlanjutan sumber daya laut yang menjadi sumber penghidupan. Harapannya, hasil penelitian ini bisa ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan nyata, peningkatan edukasi, serta penguatan sistem pengelolaan sampah di tingkat lokal agar upaya menjaga kelestarian laut Bawean dapat berjalan secara bersama dan berkelanjutan.

Ketua DPRD kabupaten Gresik Muhammad Syahrul Munir menerima hasil
Penelitian Mahasiswa ilmu Kelautan Universitas Islam Negeri Sunan  Ampel
Surabaya, di ruang rapat ketua DPRD Gresik Rabu siang (22/4/2026)

Penelitian yang kami lakukan di Pulau Bawean menemukan bahwa objek penelitian seperti ikan layur, ikan cakalang, anggur laut, daun mangrove dan plankton di perairan pulau Bawean telah tercemar Mikroplastik, bahkan kadarnya lebih tinggi dari perairan di selat madura atau di laut Bali“ Ungkap dito herdianto

 Temuan Mahasiswa ilmu Kelautan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini disampaikan dalan Acara Dialog Publik Fraksi Partai kebangkitan bangsa, dalam rangka peringatan hari Bumi 22 April 2026, bertemakan taubat Ekologi.

 “Secara kasat mata, lautnya terlihat bersih. Tapi setelah diuji, kami menemukan mikroplastik di hampir semua sampel,” ungkap Davin Jauhar Bernarddien, Lebih lanjut mahasiswa ilmu Kelautan Uins ini  menjelaskan bahwa timnya melakukan pengambilan sampel pada 4–8 April 2026 dari berbagai komponen ekosistem: plankton, anggur laut, ikan layur, ikan cakalang, hingga mangrove diketahui telah tercemar mikroplastik.

 Tabel hasil penelitian Mikroplastik di Pulau Bawean

Mikroplastik paling banyak ditemukan di daun mangrove 38 partikel/per lembar mangrove, sedangkan jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah jenis fiber. “jenis fiber ini berasal dari sisa pembakaran sampah plastik atau dari pakaian kita yang terbuat dari polyester” ungkap Dewi Fitriana, Dewi panggilan akrab Dewi Fitriana menjelaskan bahwa Jenis mikroplastik yang dominan adalah fiber, yang umumnya berasal dari limbah domestik seperti serat pakaian dan aktivitas perikanan.

Dalam audiensi dengan Ketua DPRD Kabupaten Gresik, Muhammad Syahrul Munir, Ketua Fraksi PKB DPRD, Imron Rosyadi, Kepala dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik dan Anggota  fraksi PKB DPRD Gresik , 6 orang Mahasiswa Uinsa memberikan 4 rekomendasi kepada DPRD Kabupaten Gresik dan Dinas Lingkungan hidup Kabupaten Gresik, 4 rekomendasi tersebut adalah

 1.      Pertama, Memastikan implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 3 Tahun 2021 tentang pengurangan plastik sekali pakai dapat berjalan secara efektif di wilayah Bawean, khususnya di pasar, sekolah, dan sektor pariwisata, dengan disertai mekanisme pengawasan dan sanksi yang tegas.

2.      Kedua, Mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program guna ulang (reuse), pembentukan bank sampah di setiap desa pesisir, serta pemberian insentif bagi masyarakat yang aktif melakukan pemilahan dan pengurangan sampah plastik.

3.      Ketiga, Mengalokasikan anggaran untuk pembangunan fasilitas pengelolaan sampah, termasuk Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan fasilitas daur ulang sederhana di setiap desa pesisir, guna mengurangi pembuangan sampah ke laut.

4.      Keempat, melakukan pengawasan lingkungan secara berkala terhadap aktivitas masyarakat dan sektor terkait di wilayah pesisir, serta memastikan adanya transparansi dalam pelaporan hasil pengawasan tersebut.

Dalam dialog publik yang membahas Implementasi dan tantangan Kebijakan Pro Lingkungan di Kabupaten Gresik, FPKB memberikan ruang kepada generasi muda untuk menyalurkan aspirasinya dan Perlunya kolaborasi antar fihak dalam penanganan krisis Sampah di Pulau Bawean. “Penanganan sampah itu harus dilakukan dengan bahu membahu, baik dari pemerintah, akademisi, anak muda, perusahaan, bahkan swadaya masyarakat, semuanya harus bersama-sama menangani sampah di desa kita, PR kita sangat banyak tapi anggaran kita sangat terbatas, yakinlah dengan kekuatan bersama kita akan menangani masalah sampah ini bersama-sama”, ungkap Muhammad Syahrul Munir, Ketua DPRD Kabupaten Gresik

“Sebagai peneliti sekaligus warga Pulau Bawean, saya melihat audiensi ini sebagai langkah awal yang penting untuk menghubungkan hasil penelitian dengan arah kebijakan, Tanggapan para anggota dewan menunjukkan adanya kepedulian terhadap isu mikroplastik di perairan Bawean, meskipun masih perlu pendalaman terkait tingkat urgensi dan dampaknya ke depan. Terlihat juga peluang kolaborasi antara peneliti dan pemangku kebijakan dalam mendorong pengelolaan sampah yang lebih terarah dan berbasis data” Harap Dewi Fitriani


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer