“
Penelitian yang kami lakukan di Pulau
Bawean menemukan bahwa objek penelitian seperti ikan layur, ikan cakalang,
anggur laut, daun mangrove dan plankton di perairan pulau Bawean telah tercemar
Mikroplastik, bahkan kadarnya lebih tinggi dari perairan di selat madura atau
di laut Bali“ Ungkap dito herdianto
Mikroplastik paling banyak ditemukan di daun mangrove 38 partikel/per lembar mangrove, sedangkan jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah jenis fiber. “jenis fiber ini berasal dari sisa pembakaran sampah plastik atau dari pakaian kita yang terbuat dari polyester” ungkap Dewi Fitriana, Dewi panggilan akrab Dewi Fitriana menjelaskan bahwa Jenis mikroplastik yang dominan adalah fiber, yang umumnya berasal dari limbah domestik seperti serat pakaian dan aktivitas perikanan.
Dalam audiensi dengan Ketua DPRD Kabupaten Gresik, Muhammad Syahrul Munir, Ketua Fraksi PKB DPRD, Imron Rosyadi, Kepala dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik dan Anggota fraksi PKB DPRD Gresik , 6 orang Mahasiswa Uinsa memberikan 4 rekomendasi kepada DPRD Kabupaten Gresik dan Dinas Lingkungan hidup Kabupaten Gresik, 4 rekomendasi tersebut adalah
2. Kedua, Mendorong penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui
program guna ulang (reuse), pembentukan bank sampah di setiap desa pesisir, serta
pemberian insentif bagi masyarakat yang aktif melakukan pemilahan dan
pengurangan sampah plastik.
3. Ketiga, Mengalokasikan anggaran untuk pembangunan fasilitas pengelolaan sampah,
termasuk Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan fasilitas daur ulang sederhana
di setiap desa pesisir, guna mengurangi pembuangan sampah ke laut.
4. Keempat, melakukan
pengawasan lingkungan secara berkala terhadap aktivitas masyarakat dan
sektor terkait di wilayah pesisir, serta memastikan adanya transparansi dalam
pelaporan hasil pengawasan tersebut.
Dalam
dialog publik yang membahas Implementasi dan tantangan Kebijakan Pro Lingkungan
di Kabupaten Gresik, FPKB memberikan ruang kepada generasi muda untuk
menyalurkan aspirasinya dan Perlunya kolaborasi antar fihak dalam penanganan
krisis Sampah di Pulau Bawean. “Penanganan
sampah itu harus dilakukan dengan bahu membahu, baik dari pemerintah,
akademisi, anak muda, perusahaan, bahkan swadaya masyarakat, semuanya harus
bersama-sama menangani sampah di desa kita, PR kita sangat banyak tapi anggaran
kita sangat terbatas, yakinlah dengan kekuatan bersama kita akan menangani masalah
sampah ini bersama-sama”,
ungkap Muhammad Syahrul Munir, Ketua DPRD Kabupaten Gresik
“Sebagai peneliti sekaligus warga Pulau Bawean, saya melihat audiensi ini
sebagai langkah awal yang penting untuk menghubungkan hasil penelitian dengan
arah kebijakan, Tanggapan para anggota dewan menunjukkan adanya kepedulian
terhadap isu mikroplastik di perairan Bawean, meskipun masih perlu pendalaman
terkait tingkat urgensi dan dampaknya ke depan. Terlihat juga peluang
kolaborasi antara peneliti dan pemangku kebijakan dalam mendorong pengelolaan
sampah yang lebih terarah dan berbasis data” Harap Dewi Fitriani


.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar