Selasa, 06 Oktober 2026

HOBI BARU MAKAN MIKROPLASTIK, IKAN KALI SURABAYA TERANCAM PUNAH


(
Surabaya, 6 Oktober 2026)Kebiasaan Ikan Makan Plastik memicu Kepunahan ikan di Kali Surabaya, Kegiatan Sensus Ikan 2026 yang dilakukan Ecoton menemukan 5 jenis ikan yang tertangkap mengandung mikroplastik dalam lambungnya. Plastik yang dilepaskan ke lingkungan tidak berhenti sebagai sampah yang terlihat. Partikel plastik berukuran sangat kecil—mikroplastik, umumnya kurang dari 5 milimeter—dapat terbentuk dari pelapukan plastik, limbah cair industri daur ulang, pembakaran sampah, gesekan ban kendaraan, dan pelepasan serat pakaian sintetis saat dicuci. Partikel tersebut dapat berpindah melalui udara, debu, limpasan dan hujan, air limbah, lalu masuk ke sungai. Di Kali Surabaya, jejak pencemaran itu kini ditemukan di tubuh ikan.

laporan The New York times 28 September 2026 menyebut Indonesia mengalami Pandemi Mikroplastik, Mengutip temuan ecoton 68 sungai Indonesia tercemar Mikroplastik dan udara 18 kota telah terpapar Mikroplastik, kali Surabaya tak luput dari Pandemi Mikroplastik, temuan Dr Veryl Hasan, peneliti Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, yang menyebut sedikitnya 12 spesies ikan Kali Surabaya telah dinyatakan punah dan kini tersisa 35 spesies. Artikel tersebut mengaitkan hilangnya spesies dengan kualitas air dan pencemaran limbah. Sensus Ikan yang dilakukan Ecoton september 2026 Menemukan 5 spesies ikan yang ditangkap di Kali Surabaya mengandung mikroplastik. kali Surabaya memang telah tercemar mikroplastik yang sumbernya berasal dari Limbah cair Industri daur ulang, pembakaran sampah plastik dan buruknya pengelolaan atau sistem layanan samapah di Gresik, Mojokerto, Sidoarjo dan Surabaya. Sungai yang tercemar mikroplastik akan memicu terjadinya kepunahan ikan. Fenomena ini dapat di cegah dengan tidak menjadikan sungai menjadi tempat sampah.  


Kegiatan Sensus ikan yang dilakukan Ecoton pada September 2026 menemukan lima jenis ikan yang tertangkap semuanya mengandung mikroplastik setelah dibedah lambungnya. Keberadaan mikroplastik menjadi salah satu pemicu kepunahan ikan di Kali Surabaya. “ mikroplastik masuk kategori senyawa pengganggu hormon, keberadaannya di air sungai akan berpengaruh pada terbentuknya kelamin ikan dan bila masuk kedalam organ tubuh akan mempengaruhi pertumbuhan ikan” ungkap Prigi Arisandi, lebih lanjut Peneliti Sungai Ecoton ini menjelaskan bahwa keberadaan mikroplastik di perairan akan mempengaruhi terbentuknya kelamin ikan karena sistem pembuahan ikan atau bertemunya sperma dan sel telur terjadi di air atau diluar organ tubuh ikan, mikroplastik diperairan berperan sebagai senyawa pengganggu hormon dan mendorong terbentuknya kelamin betina karena ikan akan mengganggap mikroplastik sebagai hormon esterogen atau hormon yang membentuk terjadinya kelamin betina pada ikan.

Tabel Jumlah Partikel Mikroplastik dalam Lambung Ikan Kali Surabaya

No

Nama Ikan

Berat Badan

(Gram)

partikel

partikel/100gram

1.

Palung

70

18

25

2.

Bader Merah

110

27

24

3.

Bader Putih

185

24

13

4.

Rengkik

425

40

9

5.

Jendil

500

50

10

Dari 159 partikel, 78,61 persen berupa fragmen (serpihan plastik), 20,12 persen fiber (serat), dan 1,25 persen film (lembaran plastik tipis).

Sensus ikan ecoton 12–13 September 2026 berhasil menangkap 71 ekor ikan dari tujuh jenis yaitu: Jendil, Bader Merah, Bader Putih, Rengkik, Palung, Nilem/Muntho, dan Muraganting. Jendil menjadi jenis yang paling banyak ditemukan, 44 ekor atau sekitar 65 persen dari seluruh tangkapan sensus. 80 persen ikan yang tertangkap teridentifikasi berkelamin betina.

Epidemi Mikroplastik

Mikroplastik adalah dampak dari buruknya pengelolaan lingkungan di Daerah Aliran Sungai Kali Surabaya. “buruknya pengelolaan sampah dan pengawasan limbah industri memicu peningkatan pencemaran mikroplastik di air sungai” ungkap Erica Damayanti, Lebih lanjut koordinator pendidikan lingkungan Ecoton ini menjelaskan bahwa dalam laporan The New York Times edisi 28 September 2026 melalui artikel “An Epidemic Spreads Across Indonesia” menggambarkan mikroplastik sebagai persoalan yang meluas di Indonesia dan mengutip riset ECOTON. Artikel tersebut menguraikan bagaimana partikel dari pembakaran sampah, debu, pakaian sintetis, ban kendaraan, dan sumber lain dari limbah cair Industri menjadi sumber pencemaran mikroplastik pada lingkungan. Air hujan menjadi salah satu media pelarut mikroplastik dari lingkungan kedalam air sungai : partikel yang berada di udara dapat tertangkap oleh tetesan hujan dan dibawa kembali larut dalam air sungai.


·         Di udara sekitar pabrik daur ulang plastik di Balongbendo dan timbunan sampah di Kedunganyar tercatat 630,5 partikel per jam.

·         Di Kali Surabaya ditemukan 0,73–3,6 partikel per liter air dan 0,22–0,54 partikel per gram sedimen.

·         Pada limbah cair pabrik daur ulang plastik di aliran Brantas ditemukan 4,46–9,18 partikel per liter.

 12 September 2026 melaporkan riset Veryl Hasan, peneliti Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, yang menyebut sedikitnya 12 spesies ikan Kali Surabaya telah dinyatakan punah dan kini tersisa 35 spesies. Artikel tersebut mengaitkan hilangnya spesies dengan kualitas air dan pencemaran limbah.

“Untuk pelestarian ikan di Kali Surabaya dibutuhkan langka serius pengelolaan sampah dan monitoring limbah cari di DAS Kali Surabaya,” Ungkap Prigi Arisandi, Lebih lanjut Peneliti Ecoton ini mendorong masyarakat untuk  hentikan pembakaran sampah terbuka dan perluas layanan pengangkutan serta pemilahan sampah hingga tingkat desa, pelibatan masyarakat dalam pengawasan limbah cair industri, terutama aktivitas daur ulang plastik, dan masukkan mikroplastik dalam parameter pemantauan.

Narahubung media: Amalia Fibrianty • AmaliaFibrianty.ecoton@gmail.com • 08157710782

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer