
Daru Setyorini mengangkat Sampah popok yang tersangkut pada trashbarrier
yang dipasang di Kali Tebu (Rabu, 13/5/202^)
Surabaya
(Rabu, 13 Mei 2026) Kegiatan Ekskavasi popok di Kali Tebu yang diinisiasi oleh Ecoton
bersama Komunitas Tretan Kali Tebu (Tekat) menunjukkan bahwa sampah terbanyak
yang ditemukan di Kali Tebu adalah jenis sampah popok. “45% dari 2,4 Ton sampah yang berhasil diangkat dari Kali Tebu adalah jenis
sampah popok sekali pakai,” Ungkap Daru Setyorini, lebih lanjut koordinator
program Mozaik ini menjelaskan sebanyak tim Ekskavasi sampah Kali tebu selama 3 hari
sejak Senin 11 Mei hingga Rabu 13 Mei 2026 berhasil mengangkat lebih dari 2,4
Ton sampah dan 218 piece berupa sampah
popok.
Selain melakukan pengangkatan sampah tim Relawan Ecoton dan Tekat juga melakukan brand audit sampah popok, yang hasilnya sebagai berikut :
1.
Sweety (PT Softex Indonesia) 31%
2.
Mamypoko
(PT Unicharm) 24%
3.
Momo (Momohouse) 8%
4.
Popok
Dewasa 8%
5.
Merk
Lain 14%
6.
Merk
Tidak terlihat/Rusak 15%
Kegiatan ekskavasi popok ini dilakukan setelah program Mozaik memasang trash barrier atau penghalang sampah di Kali Tebu pada minggu 10 Mei 2026. Mozaik adalah Inisiatif lingkungan Mission for Zero Plastic Leakage , Kolaborasi antara ECOTON dan Pemkot Surabaya didukung Oleh UNDP, Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk mengurangi kebocoran sampah plastik di sungai, khususnya Kali Tebu, melalui pemasangan penghalang sampah. Program ini berfokus pada kolaborasi multipihak untuk sinergi penanganan sampah.
“sampah popok menjadi problem utama dalam penanganan sampah di Kali Tebu, dibutuhkan
kolaborasi pemerintah melalui
pengawasan, pengeloaan sampah di TPS dan Masyarakat agar tidak membuang sampah plastik Ke Kali
Tebu sedangkan dari Industri diharapakan
untuk melaksanakan EPR,” Ungkap Daru Setyotini Lebih lanjut Direktur Eksekutif
Ecoton ini menjelaskan bahwa EPR atau Extended
Producer Responsibilit adalah
kebijakan lingkungan yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas seluruh
siklus hidup produk, terutama pengelolaan sampah pasca-konsumsi. Produsen
bertanggung jawab mengumpulkan, mendaur ulang, atau memproses limbah
produk/kemasannya, bertujuan mengurangi volume sampah ke TPA dan mendukung
circular ekonomi. “sampah popok yang ada di sungai juga mejandi tanggungjawab
produsen” timpas Daru Setyorini.
Pengendalian Sampah dari Sumber
Kali Tebu merupakan sumber aliran sampah plastik ke selat Madura, sehingga diperlukan pengendalian agar sampah plastik tidak masuk ke perairan laut, Kali tebu menjadi saluran pembuangan dari 6 yaitu : Kelurahan Kapas Madya, Simokerto, Tanah Kali Kedinding, Sidotopo Wetan, Bulak Banteng, hingga Tambak Wedi. . Pemasangan Trash barrier Barakuda di Kali Tebu bersifat permanen dan akan disertai proses penirisan rutin setiap dua hari sekali. “Setelah penirisan, kami akan melakukan brand audit untuk mengidentifikasi sumber sampah plastik. Lokasi brand audit dilakukan di TPS3R Kedung Cowek, Bulak,” kata Heri Purnomo, lebih lanjut Ketua Pekat ini juga mengajak masyarakt untuk menjadi Tretan Kali Tebu.”bersama-sama kita kembalikan kelestarian kali tebu, tolong jangan buang sampah ke Kali tebu” Pungkas Heri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar