![]() |
| Rafika Aprilianti memberikan paparan temuan mikroplastik dalam Sperma Rabu (8/April/2026) di Balai Budaya Jakarta Menteng. |
Dalam acara Nobar Film Menolak Punah yang di gelar di Balai Budaya Jakarta, Menteng Jakarta Pusat Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) mengungkap temuan Terbaru mengenai keberadaan partikel nano dan mikroplastik (NMPs) di dalam sistem peredaran darah manusia. Dalam penelitian terbaru yang melibatkan 30 subjek perempuan (20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa berdomisili di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan dan Malang) ditemukan rata-rata 9 partikel mikroplastik /1 ml darah. Temuan ini menjadi sinyal merah bagi kesehatan publik, terutama karena jenis polimer yang paling mendominasi adalah Polyester (28%), yang merupakan tulang punggung industri pakaian dan tekstil modern.
Ukuran Mikroplastik Lebih Kecil dari Pembuluh Darah
Penelitian menunjukkan partikel yang ditemukan berukuran antara 0,40 hingga 10 mikron. Ukuran ini jauh di bawah diameter pembuluh rambut (kapiler) manusia yang berkisar 5-10 mikron, dan pembuluh arteriol 8-100 mikron. Artinya, partikel plastik ini memiliki kemampuan mekanis untuk menembus jaringan terdalam, mengalir tanpa hambatan di arteriol, dan berinteraksi langsung dengan sel-sel vital di dalam tubuh. Selain Polyester (28%), polimer lain yang terdeteksi meliputi Polyisobutylene (24%), Polyethylene (PE, LDPE, HDPE total 32%), dan PET (16%).
Dampak
Kesehatan: Dari Kerusakan Sel hingga Risiko Stroke.
Keberadaan benda asing sintetis ini di dalam darah memicu rentetan reaksi biologis yang berbahaya:
1. Sel Darah Merah
& Hemoglobin: NMPs berinteraksi langsung dengan membran sel darah merah, menyebabkan risiko pecah sel
(hemolisis) yang melepaskan hemoglobin ke plasma darah. Hal ini memicu
penggumpalan sel yang berisiko menyumbat pembuluh darah, meningkatkan ancaman
stroke dan penyakit kardiovaskular.
2. Sistem Imun yang
Kelelahan: Sel darah putih (makrofag) mencoba "memakan" plastik tersebut
namun gagal menghancurkannya. Akibatnya, tubuh terus-menerus mengeluarkan sinyal toksik (TNF-alpha dan
Interleukin), yang jika terjadi secara kronis akan menurunkan jumlah sel darah
putih dan melemahkan sistem imun.
3. Gangguan
Pembekuan Darah: Interaksi NMPs
dengan trombosit (platelet) memicu pembentukan gumpalan darah atau trombus,
yang dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh koroner (PJK).
4. Penuaan Dini Sel: Sel-sel tubuh dipaksa menggunakan energi ekstra
untuk mengeluarkan partikel plastik, yang mempercepat proses penuaan seluler
dan mengganggu proses hematopoietik (pembentukan sel darah baru).
Limbah Tekstil: Polusi yang Terabaikan
Dominasi
Polyester dalam temuan ini mengarahkan sorotan tajam pada industri pakaian.
Serat mikro yang terlepas dari pencucian baju sintetis dan limbah pabrik
tekstil kini tidak hanya mencemari sungai, tetapi telah berpindah ke dalam
tubuh manusia.
"Fakta
bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subjek penelitian
kami menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari berpotensi menjadi
racun yang mengalir di dalam nadi," ungkap perwakilan tim peneliti ECOTON.
Ancaman Kepunahan Manusia
Lebih
lanjut, Ecoton telah melakukan studi awal dan mengidentifikasi mikroplastik
dalam sperma dan air ketuban ibu hamil. Dalam 4 sample sperma ditemukan
kontaminasi 6-7 partikel mikroplastik jenis polyethylene yg memicu gangguan perkembangan sperma hingga
menurunkan kesuburan. Penelitian Ecoton berkerjasama dengan Fakultas Kedokteran
Airlangga Surabaya menemukan Dalam air ketuban mikroplastik memicu gangguan
perkembangan janin, penurunan nutrisi, inflamasi, hingga bayi lahir prematur,
sejak ditemukannya 3-4 partikel mikroplastik dalam amnion ibu hamil jenis
polyethylene, dengan mengambil 45 sample ketuban di Gresik (Jawa Timur).
Rekomendasi
Peneliti, menghimbau masuarakat untuk :
1.
Mengurangi
konsumsi pakaian berbahan sintetis, karena serat mikro (microfibers) yang
dilepaskan dari bahan tersebut berkontribusi signifikan terhadap pencemaran
mikroplastik di lingkungan. Alih-alih terus membeli pakaian baru, masyarakat
dapat memaksimalkan penggunaan pakaian yang sudah dimiliki melalui perawatan
yang baik, penggunaan berulang, hingga praktik berbagi atau tukar pakaian.
Langkah sederhana ini tidak hanya mengurangi produksi limbah serat sintetis,
tetapi juga menekan permintaan industri fast fashion yang menjadi salah satu
sumber utama polusi mikroplastik.
2.
Mengurangi
penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari, terutama dalam
konsumsi makanan dan minuman serta saat berbelanja. Menghindari penggunaan
wadah plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri, serta menggunakan tas
belanja guna ulang merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan. Upaya
kolektif ini penting untuk menekan jumlah plastik yang berpotensi terdegradasi
menjadi mikroplastik di lingkungan, yang pada akhirnya dapat berdampak pada
kesehatan manusia dan ekosistem secara luas.
Tim Peneliti
Dr,
dr Lestari Sudaryanti., Mkes, - Staf Pengajar FK Universitas Airlangga
Dr
Daru Setyorini., Dipl EM., S.Si., MSi – Direktur Ecoton
Rafika
Aprilianti, SSi – Kepala Lab Mikroplastik Ecoton
Sofi
Azilan Aini, SKm – Peneliti Ecoton
Tasya
Husna., SP., Editor Jurnal Environmental Pollution
Prigi
Arisandi S.Si., MSi
Sri
Astika – Mahasiswa Biologi Unesa Surabaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar