Jumat, 24 April 2026

Membebaskan Kali Tebu Dari Sampah Plastik, Mungkinkah?


Surabaya, 24 April 2026 – Lembaga Kajian Lahan Basah Ecoton resmi memulai uji coba program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) di Kali Tebu, Surabaya. Program ini merupakan inisiatif terpadu untuk menghentikan kebocoran sampah plastik dari daratan menuju laut melalui pendekatan teknologi, data, dan pemberdayaan masyarakat. Sungai menjadi salah satu saluran masukknya sampah plastik dari daratan ke Lautan, masih ditemukannya perilaku masyarakat Surabaya Utara membuang sampah plastik ke Kali Tebu menjadi penyebab mengalirnya sampah plastik ke Selat Madura.

Kali Tebu selama ini dikenal sebagai salah satu sungai dengan tingkat pencemaran tinggi di Surabaya. Selain merusak ekosistem lahan basah, kondisi tersebut juga berdampak langsung pada kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

Manager Project MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, menjelaskan bahwa program ini dirancang secara sistemik dengan intervensi dari hulu hingga hilir. “Kami membagi wilayah intervensi menjadi tiga segmen, yakni hulu, tengah, dan hilir, untuk memastikan setiap bagian sungai mendapatkan penanganan yang optimal,” ujarnya. Program MOZAIK mencakup enam kelurahan di Kecamatan Kenjeran, yaitu Kapas Madya Baru, Simokerto, Sidotopo Wetan, Tanah Kali Kedinding, Bulak Banteng, dan Tambak Wedi. Pendekatan berbasis kawasan ini bertujuan memperkuat efektivitas pengelolaan sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Intervensi Teknis dan Sistem Operasional

Pemasangan Trashboom di Platuk Donomulyo, Kenjeran Surabaya

Salah satu komponen utama dalam program ini adalah pemasangan trash boom, yaitu alat penahan sampah yang dipasang di aliran sungai untuk mencegah sampah plastik terbawa ke hilir. Sampah yang tertahan kemudian diproses melalui sistem operasional berlapis, mulai dari penirisan di minidock, pengumpulan di titik inbound, hingga pemilahan mendalam.

Proses pemilahan dilakukan dalam beberapa tahap, meliputi:

Pemisahan hingga 30 kategori material untuk mengetahui komposisi sampah secara detail, 

Pengelompokan lanjutan berdasarkan jenis dan warna, 

Brand audit untuk mengidentifikasi produsen sampah plastik, 

Pemadatan (balling) untuk efisiensi distribusi ke industri daur ulang. 

“Hasil pemilahan ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi yang dapat mendukung keberlanjutan program,” tambah Amiruddin.

Peran Komunitas dan Edukasi

Selain intervensi teknis, MOZAIK juga mengedepankan pendekatan sosial melalui strategi Zero Waste Cities. Edukasi kepada masyarakat dilakukan untuk mendorong pengurangan sampah dari sumbernya, termasuk praktik guna ulang dan pembatasan plastik sekali pakai.

Kegiatan pembersihan sungai secara rutin juga melibatkan warga dan relawan. Pendekatan ini diyakini menjadi kunci keberhasilan program. “Upaya di sungai tidak akan efektif tanpa pengurangan sampah dari darat,” tegas Amiruddin.

Data untuk Dorong Akuntabilitas


Manager Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahmatullah, menekankan pentingnya data dalam program ini. Menurutnya, pemilahan detail hingga puluhan kategori bertujuan membangun basis data ilmiah terkait komposisi sampah. “Data ini menjadi dasar untuk mendorong tanggung jawab produsen melalui mekanisme brand audit, sehingga perusahaan dapat dimintai pertanggungjawaban atas limbah kemasan mereka,” jelasnya.

Melalui kombinasi intervensi teknologi, penguatan data, dan partisipasi masyarakat, MOZAIK menargetkan penurunan signifikan kebocoran sampah plastik ke laut. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sungai perkotaan yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia. " Dengan kombinasi intervensi yang akan dilakukan sangat mungkin Kali Tebu bisa terbebas dari sampah plastik" Ungkap Alaika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer