Minggu, 12 April 2026

Ecoton Temukan Nanoplastik Dalam Darah & Sperma Manusia

Temuan nanoplastik dalam sel darah merah, Uji Scanning Electrone Microscop (SEM)  dengan
Pembesaran 7000 kali. di SIC Scientific Imaging Center, ITB pada Jumat (10/4/2026)


Awalnya ada keraguan terkait dengan ukuran plastik yang masuk kedalam darah manusia karena ukuran eritrosit atau sel darah merah antara 6-8 Mikrometer (µm) rata-rata 7,2 µm. Sedangkan ukuran Mikroplastik masih dalam millimeter. “Definisi mikroplastik adalah pecahan plastik dengan ukuran dibawah 5 mm hingga 1 µm atau 1 per 1000 milimeter” jelas Prigi Arisandi, lebih lanjut, Manager Science,Art and Communication Ecoton ini menjelaskan bahwa jika plastik dalam ukuram millimeter tidak bisa masuk kedalam eritrosit namun jika ukurannya dibawah 5 µm maka plastik ini bisa masuk kedalam eritrosit. Untuk memastikan ukuran µm Team Ecoton berkolaborasi dengan Scientific Imaging Centre (SIC), Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Jumat 10 April 2026. SIC merupakan fasilitas pendukung untuk riset visual kolaborasi antara ITB, Evident dan PT Widya Prima Mulia yang menyediakan fasilitas pemantauan material dengan ketepatan hingga 10 nanometer (1 nano = 1/1.000.000 mm) menggunakan Scanning Electrone Microscop (SEM), Selain ketepatan pengukuran hingga 10 nanometer, SEM bisa mendeteksi unsur-unsur penyusun material. “Dengan menggunakan SEM kami menemukan nanoplastik dalam darah dan sperma dengan ukuran 200-800 nanometer” ungkap Rafika Aprilianti, lebih lanjut kepala laboratorium Mikroplastik Ecoton ini menambahkan bahwa jenis nanoplastik yang ditemukan adalah jenis fiber dan fragmen.

Dalam Rangka Pesta Media 2026 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen pada 11-12 April 2026, Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) mengungkap temuan Terbaru mengenai keberadaan partikel nano dan mikroplastik (NMPs) di dalam sistem peredaran darah manusia. Dalam penelitian terbaru yang melibatkan 30 subjek perempuan (20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa berdomisili di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan dan Malang) ditemukan rata-rata 9 partikel mikroplastik /1 ml darah. Ecoton telah melakukan studi awal dan mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma dan air ketuban ibu hamil. Dalam 4 sample sperma ditemukan kontaminasi 6-7 partikel nanoplastik berpolimer polyethylene Temuan ini menjadi sinyal merah bagi kesehatan publik, terutama karena jenis polimer yang paling mendominasi adalah Polyester (28%), yang merupakan tulang punggung industri pakaian dan tekstil modern.

Ukuran Nanoplastik Lebih Kecil dari Pembuluh Darah

Rafika Aprilianti sedang mengukur Diameter Nanoplastik dalam Sperma
dengan menggunakan SEM di Scientific Imaging Centre ITB (10/4/2026)

Penelitian menunjukkan partikel yang ditemukan berukuran antara 0,40 mikron hingga 10 mikron. Ukuran ini jauh di bawah diameter pembuluh rambut (kapiler) manusia yang berkisar 5-10 mikron, dan pembuluh arteriol 8-100 mikron. Artinya, partikel plastik ini memiliki kemampuan mekanis untuk menembus jaringan terdalam, mengalir tanpa hambatan di arteriol, dan berinteraksi langsung dengan sel-sel vital di dalam tubuh. Selain Polyester (28%), polimer lain yang terdeteksi meliputi Polyisobutylene (24%), Polyethylene (PE, LDPE, HDPE total 32%), dan PET (16%).

Dampak Kesehatan: Dari Kerusakan Sel hingga Risiko Stroke.

 Keberadaan benda asing sintetis ini di dalam darah memicu rentetan reaksi biologis yang berbahaya:

1.      Sel Darah Merah & Hemoglobin: NMPs berinteraksi langsung dengan membran sel darah merah, menyebabkan risiko pecah sel (hemolisis) yang melepaskan hemoglobin ke plasma darah. Hal ini memicu penggumpalan sel yang berisiko menyumbat pembuluh darah, meningkatkan ancaman stroke dan penyakit kardiovaskular.

2.      Sistem Imun yang Kelelahan: Sel darah putih (makrofag) mencoba "memakan" plastik tersebut namun gagal menghancurkannya. Akibatnya, tubuh terus-menerus mengeluarkan sinyal toksik (TNF-alpha dan Interleukin), yang jika terjadi secara kronis akan menurunkan jumlah sel darah putih dan melemahkan sistem imun.

3.      Gangguan Pembekuan Darah: Interaksi NMPs dengan trombosit (platelet) memicu pembentukan gumpalan darah atau trombus, yang dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh koroner (PJK).

4.      Penuaan Dini Sel: Sel-sel tubuh dipaksa menggunakan energi ekstra untuk mengeluarkan partikel plastik, yang mempercepat proses penuaan seluler dan mengganggu proses hematopoietik (pembentukan sel darah baru).

 

Limbah Tekstil: Polusi yang Terabaikan


Dominasi Polyester dalam temuan ini mengarahkan sorotan tajam pada industri pakaian. Serat mikro yang terlepas dari pencucian baju sintetis dan limbah pabrik tekstil kini tidak hanya mencemari sungai, tetapi telah berpindah ke dalam tubuh manusia.

"Fakta bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subjek penelitian kami menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari berpotensi menjadi racun yang mengalir di dalam nadi," ungkap perwakilan tim peneliti ECOTON.

 Ancaman Kepunahan Manusia

Lebih lanjut, Ecoton telah melakukan studi awal dan mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma dan air ketuban ibu hamil. Dalam 4 sample sperma ditemukan kontaminasi 6-7 partikel nanoplastik berpolimer polyethylene. Keberadaan nanoplastik dapat memicu gangguan perkembangan sperma hingga menurunkan kesuburan. Penelitian Ecoton berkerjasama dengan Fakultas Kedokteran Airlangga Surabaya menemukan Dalam air ketuban mikroplastik memicu gangguan perkembangan janin, penurunan nutrisi, inflamasi, hingga bayi lahir prematur, sejak ditemukannya 3-4 partikel mikroplastik dalam amnion ibu hamil jenis polyethylene, dengan mengambil 45 sample ketuban di Gresik (Jawa Timur).

 

Nanoplastik yang masuk dalam  tubuh panik langsung kirim sel-sel inflamasi seperti neutrofil, limfosit, dan leukosit untuk menghancurkannya. Masalahnya nanoplastik tidak bisa hancur.

Proses “penyerangan” itu malah menghasilkan radikal bebas ( oksigen yang kehilangan elektron dan jadi ganas, merusak dinding sel, mitokondria, sampai inti sel). Keadaan ini disebut stres oksidatif: sel-sel tubuh kelelahan karena Nanoplastik (benda asing) tidak bisa dihancurkan, hingga menyebabkan sel mati satu per satu yang menyebabkan rusak sel reproduksi pria, hasilnya adalah penurunan kualitas sperma hingga infertilitas.

 Philip J. Landrigan, dokter spesialis anak Amerika Serikat dalam documenter The Plastic Detox, menyatakan bahwa ibu hamil yang terekspos bahan kimia beracun dari plastik sekaligus mengekspos organ reproduksi tiga generasi— yaitu si ibu sendiri, anak yang dikandung, dan sel telur/sel reproduksi yang sudah terbentuk di dalam janin itu. Artinya, cucu bisa terdampak dari plastik yang kita konsumsi hari ini.

Rekomendasi Peneliti, menghimbau masuarakat untuk  :

1.      Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari, terutama dalam konsumsi makanan dan minuman serta saat berbelanja. Mengurangi konsumsi pakaian berbahan sintetis,  Menghindari penggunaan wadah plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri, serta menggunakan tas belanja guna ulang merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan. Upaya kolektif ini penting untuk menekan jumlah plastik yang berpotensi terdegradasi menjadi nanoplastik di lingkungan, yang pada akhirnya dapat berdampak pada kesehatan manusia dan ekosistem secara luas.

2.      Mengkonsumsi Anti inflamasi seperti kunyit dan antioksidan seperti buah dan sayuran

3.      Olah raga yang bisa menginput energy seperti taichi

Tim Peneliti

Dr, dr Lestari Sudaryanti., Mkes, - Staf Pengajar FK Universitas Airlangga

Dr Daru Setyorini., Dipl EM., S.Si., MSi – Direktur Ecoton

Rafika Aprilianti, SSi – Kepala Lab Mikroplastik Ecoton

Sofi Azilan Aini, SKm – Peneliti Ecoton

Tasya Husna., SP., Editor Jurnal Environmental Pollution

Prigi Arisandi S.Si., MSi

Sri Astika – Mahasiswa Biologi Unesa Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer