| Temuan nanoplastik dalam sel darah merah, Uji Scanning Electrone Microscop (SEM) dengan Pembesaran 7000 kali. di SIC Scientific Imaging Center, ITB pada Jumat (10/4/2026) |
Awalnya ada keraguan terkait dengan ukuran plastik yang masuk kedalam darah manusia karena ukuran eritrosit atau sel darah merah antara 6-8 Mikrometer (µm) rata-rata 7,2 µm. Sedangkan ukuran Mikroplastik masih dalam millimeter. “Definisi mikroplastik adalah pecahan plastik dengan ukuran dibawah 5 mm hingga 1 µm atau 1 per 1000 milimeter” jelas Prigi Arisandi, lebih lanjut, Manager Science,Art and Communication Ecoton ini menjelaskan bahwa jika plastik dalam ukuram millimeter tidak bisa masuk kedalam eritrosit namun jika ukurannya dibawah 5 µm maka plastik ini bisa masuk kedalam eritrosit. Untuk memastikan ukuran µm Team Ecoton berkolaborasi dengan Scientific Imaging Centre (SIC), Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Jumat 10 April 2026. SIC merupakan fasilitas pendukung untuk riset visual kolaborasi antara ITB, Evident dan PT Widya Prima Mulia yang menyediakan fasilitas pemantauan material dengan ketepatan hingga 10 nanometer (1 nano = 1/1.000.000 mm) menggunakan Scanning Electrone Microscop (SEM), Selain ketepatan pengukuran hingga 10 nanometer, SEM bisa mendeteksi unsur-unsur penyusun material. “Dengan menggunakan SEM kami menemukan nanoplastik dalam darah dan sperma dengan ukuran 200-800 nanometer” ungkap Rafika Aprilianti, lebih lanjut kepala laboratorium Mikroplastik Ecoton ini menambahkan bahwa jenis nanoplastik yang ditemukan adalah jenis fiber dan fragmen.
Dalam Rangka Pesta Media 2026 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen pada 11-12 April 2026, Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) mengungkap temuan Terbaru mengenai keberadaan partikel nano dan mikroplastik (NMPs) di dalam sistem peredaran darah manusia. Dalam penelitian terbaru yang melibatkan 30 subjek perempuan (20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa berdomisili di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan dan Malang) ditemukan rata-rata 9 partikel mikroplastik /1 ml darah. Ecoton telah melakukan studi awal dan mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma dan air ketuban ibu hamil. Dalam 4 sample sperma ditemukan kontaminasi 6-7 partikel nanoplastik berpolimer polyethylene Temuan ini menjadi sinyal merah bagi kesehatan publik, terutama karena jenis polimer yang paling mendominasi adalah Polyester (28%), yang merupakan tulang punggung industri pakaian dan tekstil modern.
Ukuran Nanoplastik Lebih Kecil dari Pembuluh Darah

Rafika Aprilianti sedang mengukur Diameter Nanoplastik dalam Sperma
dengan menggunakan SEM di Scientific Imaging Centre ITB (10/4/2026)
Penelitian
menunjukkan partikel yang ditemukan berukuran antara 0,40 mikron hingga 10
mikron. Ukuran ini jauh di bawah diameter pembuluh rambut (kapiler) manusia
yang berkisar 5-10 mikron, dan pembuluh arteriol 8-100 mikron. Artinya,
partikel plastik ini memiliki kemampuan mekanis untuk menembus jaringan
terdalam, mengalir tanpa hambatan di arteriol, dan berinteraksi langsung dengan
sel-sel vital di dalam tubuh. Selain
Polyester (28%), polimer lain yang terdeteksi meliputi Polyisobutylene (24%),
Polyethylene (PE, LDPE, HDPE total 32%), dan PET (16%).
Dampak Kesehatan: Dari Kerusakan
Sel hingga Risiko Stroke.
1.
Sel
Darah Merah & Hemoglobin: NMPs berinteraksi langsung dengan membran sel
darah merah, menyebabkan risiko pecah sel (hemolisis) yang melepaskan
hemoglobin ke plasma darah. Hal ini memicu penggumpalan sel yang berisiko
menyumbat pembuluh darah, meningkatkan ancaman stroke dan penyakit
kardiovaskular.
2.
Sistem
Imun yang Kelelahan: Sel darah putih (makrofag) mencoba "memakan"
plastik tersebut namun gagal
menghancurkannya. Akibatnya, tubuh terus-menerus mengeluarkan sinyal toksik
(TNF-alpha dan Interleukin), yang jika terjadi secara kronis akan menurunkan
jumlah sel darah putih dan melemahkan sistem imun.
3.
Gangguan
Pembekuan Darah: Interaksi NMPs dengan trombosit
(platelet) memicu pembentukan gumpalan darah atau trombus, yang dapat
menyebabkan penyumbatan pembuluh koroner (PJK).
4.
Penuaan
Dini Sel: Sel-sel tubuh dipaksa
menggunakan energi ekstra untuk mengeluarkan partikel plastik, yang mempercepat
proses penuaan seluler dan mengganggu proses hematopoietik (pembentukan sel
darah baru).
Limbah Tekstil: Polusi yang
Terabaikan
Dominasi Polyester dalam temuan ini mengarahkan sorotan tajam pada industri pakaian. Serat mikro yang terlepas dari pencucian baju sintetis dan limbah pabrik tekstil kini tidak hanya mencemari sungai, tetapi telah berpindah ke dalam tubuh manusia.
"Fakta
bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subjek penelitian
kami menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari berpotensi menjadi
racun yang mengalir di dalam nadi," ungkap perwakilan tim peneliti ECOTON.
Lebih
lanjut, Ecoton telah melakukan studi awal dan mengidentifikasi mikroplastik
dalam sperma dan air ketuban ibu hamil. Dalam 4 sample sperma ditemukan
kontaminasi 6-7 partikel nanoplastik berpolimer polyethylene. Keberadaan nanoplastik dapat
memicu gangguan perkembangan sperma hingga menurunkan kesuburan. Penelitian
Ecoton berkerjasama dengan Fakultas Kedokteran Airlangga Surabaya menemukan Dalam
air ketuban mikroplastik memicu gangguan perkembangan janin, penurunan nutrisi,
inflamasi, hingga bayi lahir prematur, sejak ditemukannya 3-4 partikel
mikroplastik dalam amnion ibu hamil jenis polyethylene, dengan mengambil 45
sample ketuban di Gresik (Jawa Timur).
Nanoplastik
yang masuk dalam tubuh panik langsung
kirim sel-sel inflamasi seperti neutrofil, limfosit, dan leukosit untuk menghancurkannya.
Masalahnya nanoplastik tidak bisa hancur.
Proses
“penyerangan” itu malah menghasilkan radikal bebas ( oksigen yang kehilangan elektron dan jadi ganas, merusak dinding sel,
mitokondria, sampai inti sel). Keadaan ini disebut stres oksidatif:
sel-sel tubuh kelelahan karena Nanoplastik (benda
asing) tidak bisa dihancurkan, hingga menyebabkan sel mati satu per satu
yang menyebabkan rusak sel reproduksi pria, hasilnya adalah penurunan kualitas
sperma hingga infertilitas.
Rekomendasi Peneliti, menghimbau masuarakat untuk :
1. Mengurangi
penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari, terutama dalam konsumsi makanan
dan minuman serta saat berbelanja. Mengurangi konsumsi pakaian berbahan
sintetis, Menghindari penggunaan wadah
plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri, serta menggunakan tas
belanja guna ulang merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan. Upaya
kolektif ini penting untuk menekan jumlah plastik yang berpotensi terdegradasi
menjadi nanoplastik di lingkungan, yang pada akhirnya dapat berdampak pada
kesehatan manusia dan ekosistem secara luas.
2.
Mengkonsumsi Anti inflamasi
seperti kunyit dan antioksidan seperti buah dan sayuran
3. Olah
raga yang bisa menginput energy seperti taichi
Tim Peneliti
Dr,
dr Lestari Sudaryanti., Mkes, - Staf Pengajar FK Universitas Airlangga
Dr
Daru Setyorini., Dipl EM., S.Si., MSi – Direktur Ecoton
Rafika
Aprilianti, SSi – Kepala Lab Mikroplastik Ecoton
Sofi
Azilan Aini, SKm – Peneliti Ecoton
Tasya
Husna., SP., Editor Jurnal Environmental Pollution
Prigi
Arisandi S.Si., MSi
Sri
Astika – Mahasiswa Biologi Unesa Surabaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar