Minggu, 12 April 2026

PAMERAN CSO PESTA MEDIA 2026, AZWI LAKUKAN UJI MIKROPLASTIK DI KULIT

Ibar Akbar, Menjelaskan pada Pengunjung jenis mikroplastik yang ditemuka di kulit
Ibar Akbar Menjelaskan jenis-jenis mikroplastik yang ditemukan 
diatas kulit pengunjung Minggu (12/4/2026) di Pesta Media 2026
di Taman Ismail Marzuki

Edukasi Ancaman Kesehatan Mikroplastik Untuk Kesehatan Manusia

Jakarta (12/4/2026) Aliansi Zerowaste Indonesia (AZWI)  berpartisipasi dalam Pesta Media 2026 di Jakarta yang diselenggarakan oleh  Aliansi Jurnalis Independen. Salah satu Event dalam Persta Media 2026 adalah Pameran CSO, AZWI menampilkan booth yang berisi informasi terkait dengan pendekatan Zerowaste , jenis-jenis dampak lingkungan plastik dan hasil-hasil penelitian terkait dengan Dioksin yang dilakukan oleh Nexus3, Riset Mikroplastik dalam organ manusia yang dilakukan oleh Greenpeace dan Ecoton, Penelitian mikroplastik dalam jajanan oleh Gita Pertiwi dan PPLH Bali. Selain informasi yang dipamerkan dalam bentuk poster, Booth AZWI juga berisi uji mikroplastik permukaan kulit, dalam dua hari Pameran dari 11-12/April 2026 lebih dari 152 pengunjung melakukan uji mikroplastik di kulit. “uji Mikroplastik di Booth AZWI banyak menyedot perhatian pengunjung, mereka antusias ingin mengetahui secara langsung mikroplastik dan memastikan apakah kulit mereka sudah tercemar mikroplastik” Ungkap Rafika Aprilianti, lebih lanjut Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton ini juga menjelaskan bahwa untuk mengetahui keberadaan mikroplastik, dalam Booth AZWI disediakan 2 mikroskop dengan pembesaran 100 kali dan satu mikroskop yang tersambung dengan monitor 40 inch untuk menunjukkan jenis-jenis mikroplastik.

Edukasi Bahaya Mikroplastik

Dalam Pameran CSO Pesta Media 2026 AZWI ingin mengedukasi masyarakat tentang Bahaya mikroplastik dilingkungan dan ancaman kesehatannya. “Melalui Pameran ini AZWI ingin mengenalkan keberadaan aliansi masyarakat Sipil di Indonesia yang bergerak dalam  upaya zerowaste, mengedukasi masyarakat tentang ancaman mikroplastik “ ungkap Siti Dzakiyah, lebih lanjut Koordinator Pameran AZWI di event  pesta Media 2026 ini menambahkan bahwa melalui Booth Pameran AZWI dalam event pesta Media selain memberikan informasi tentang kegiatan AZWI, pengunjung juga berkesempatan mendapatkan merchandise berupa tshirt,  Toothbag, PIN, Stiker dan cinderamata menarik.

“Mikroplastik telah ada disekitar manusia, bahkan dalam riset greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ditemukan korelasi antara pola hidup yang menggunakan plastik sekali pakai dengan menurunan kognitif otak manusia yang tinggal di Jakarta, Bogor, Depok dan Tangerang” Ungkap Ibar akbar, Lebih lanjut Juru Kampanye Zerowaste Greenpeace Indonesia ini mendorong masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan Implementasi EPR.

Penasaran Bentuk Mikroplastik


Kegiatan uji mikroplastik di Kulit ini dilakukan dengan mengoles atau swab permukaan kulit dengan tisu kosmetik pada permukaan kulit wajah atau kulit tangan. “dengan tisu yang dilipat  5 cm persegi kemudian di oleskan pada permukaan wajah atau permukaan kulit dalam satu arah sepanjang 30 cm, kemudian tisu yang telah dioleskan di amati dibawah mikroskop portable dengan pembesaran 40 hingga 100 kali” ungkap Rafika Aprilianti, lebih lanjut Alumni Biologi UIN Malang ini menjelaskan bahwa jenis mikroplastik yang paling banyak dijumpai di kulit adalah jenis fiber atau benang kemudian fragmen atau cuilan, jenis filament atau lembaran bening dan jenis microbead yang biasa dicampurkan dalam kosmetik. Sumber mikroplastik di Kulit tangan dan wajah bisa berasal dari pencemaran udara akibat kegiatan pembakaran sampah, tekstil dan gesekan antara ban karet dengan aspal. Lebih dari 152 pengunjung Booth Pameran AZWI telah melakukan uji mikroplastik yang menempel di kulit, sebagian besar merasa was-was akan dampak kesehatan yang ditimbulkan dengan kontaminasi mikroplastik di Kulit. “Apa aja sih dampaknya kalo setiap hari kulit kita tercemar mikroplastik” tanya ibu-ibu pengunjung yang tinggal di Salemba setelah mengetahui di kulitnya terdapat mikroplastik. Sofi Azilan Aini, memberikan penjelasan kepada pengunjung yang telah melakukan uji Mikroplastik di Kulit. peneliti Ecoton ini kemudian menjelaskan bahwa mikroplastik masuk kedalam tubuh manusia melalui permukaan Kulit, Tertelan melalui mulut dan terhirup melalui hidup. “ Mikroplastik atau nanoplastik yang masuk kedalam tubuh akan menimbulkan peradangan sel atau inflamasi selain itu mikroplastik dianggap sel sebagai benda asing yang harus di eleminasi atau di musnahkan maka Sel darah putih diproduksi ekstra dan menyebabkan sel Stress dan mati, kematian sel dalam jumlah besar akan menyebabkan kerusakan sel dan fungsi organ” ungkap Sofi Azilan Aini, lebih lanjut alumni Fakultas Kesehatan masyarakat UNUSA Surabaya ini menjelaskan bahwa Mikroplastik tidak akan membunuh secara langsung namun keberadaan mikroplastik dalam tubuh manusia akan menimbulkan banyak penyakit bagi manusia.

The Plastic Detox

Salah satu dampak kesehatan mikroplastik yang kini sedang menjadi isu global adalah terjadinya penurunan produksi sperma manusia akibat mikroplastik. “Dalam film the plastic detox, seorang professor di Amerika Serikat melakukan riset intervensi pengurangan kontaminasi mikroplastik yang ditimbulkan dari perabot rumah tangga kepada 6 pasangan yang belum memiliki anak, setelah 3 bulan hidup dengan mengurangi penggunaan plastik dan senyawa kimia plastik 5 pasangan bisa hamil” ungkap Sri Astika, lebih lanjut Mahasiwa Biologi Universitas Negeri Surabaya ini menjelaskan bahwa mikroplastik dan senyawa plastik dapat menurunkan kualitas dan produksi sperma.

Anggota AZWI yang menjadi pemandu dalam booth Pameran ini selalu aktif mengedukasi pengunjung untuk mewaspadai perabot rumah tangga yang menimbulkan kontaminasi dalam ruang seperti Sofa, karpet, Perabot masak dari Teflon seperti penggorengan dan rice cooker, spon pencuci piring, air dalam kemasan, talenan, teh Celup, gelas kertas dan personal care. “ selama ini gelas kertas yang kita gunakan bukanlah 100% terbuat dari kertas, karena jika murni kertas maka gelas kertas akan lumer, jika terkena panas, maka bisa dipastikan ada laminasi atau lapisan plastik didalam agar kertas tidak lumer,” ungkap Prigi Arisandi, lebih lanjut Peneliti Ecoton ini juga menunjukkan specimen gelas kertas yang telah terkelupas kertas dan menyisakan lapisan plastik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer