Tim Peneliti Perumus Strategi terintegrasi penanganan Dampak
Kesehatan Mikroplastik berpose dalam auditorium UKWMS(9/3)
(GRESIK, 10 Maret 2026 )Diskusi Pakar Usulkan Strategi
Terintegrasi Penanganan Dampak Mikroplastik dan mendorong masyarakat berinisiatif melakukan mitigasi dengan Konsumsi Jamu
Kunyit, Buah, sayuran dan Meditasi untuk Pulihkan Sel Rusak Akibat
Mikroplastik. "Nunggu Pemerintah merespon Kelamaan" Ungkap Dr. Roy Hendroko Setyobudi, M.Si dari Universitas Muhammadiyah Malang.
Kontaminasi Mikroplastik dalam organ akan menyebabkan kerusakan sel dan gangguan hormon yang bisa menimbulkan penyumbatan cardiovascular, diabetes mellitus, penurunan kognitif dan infertile. “bahkan saat ini banyak dijumpai pasien cuci darah berumur dibawah 25 tahun dan fasilitas Cuci darah di Rumah sakit di Gerbang kertasusila saat ini penuh dengan antrian pasien cuci darah” Ungkap Dr. Herjunianto SpPD, MMRS, lebih lanjut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) menjelaskan kerusakan sel mengganggu system hormone salah satu penyebabnya adalah kontaminasi mikroplastik dalam Tubuh Manusia,
Dr.Yudhiakuari Sincihu dr, Dosen UKWMS Peneliti Mikroplastik
Yang mengagas Strategi Integrasi Penanganan Mikroplastik
Dalam
FGD Strategi Integrasi penanganan Mikroplastik dalam rangka Ekspose
temuan bahan kimia racun plastik dalam Darah yang diadakan 9-10 Maret di
Auditorium UKWMS dirumuskan 3. solusi untuk merehabilitasi sel
yang rusak akibat paparan mikroplastik dengan
1. Mengkonsumsi kunyit yang berfungsi sebagai anti
inflamasi, buah-buahan yang mengandung antioksidan tinggi seperti Nanas,
manggis, buah asem jawa dan sayuran berserat.
2. Melakukan Gerakan meditasi atau olahraga yang
bersifat menghimpun energi seperti Taichi, yoga bukan olahraga yang menguras
energi secara berlebihan seperti sepak bola atau lari. Olah raga penghimpun energy ini Untuk
pemulihan energi sel.
3. Strategi Terintegrasi Pasca Temuan Mikroplastik dalam Darah di Indonesia yang terdiri dari 6 komponen : Penguatan Kebijakan dan Regulasi, Transformasi Sistem Pengelolaan Sampah, Pengendalian Paparan pada Manusia, Penguatan Riset dan Inovasi, Edukasi dan Perubahan Perilaku dan Kolaborasi Multi-Sektor
Kelompok pakar
medis, akademisi dari UKWMS, Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah
Malang (UMM), serta aktivis lingkungan Ecoton mendesak Pemerintah Indonesia
untuk segera mengimplementasikan strategi terintegrasi guna mengatasi dampak
berbahaya mikroplastik. Langkah ini dinilai mendesak setelah hasil Focus
Group Discussion (FGD) terbaru mengonfirmasi temuan mikroplastik dalam
darah masyarakat, yang menandakan krisis polusi plastik telah masuk ke level
sistemik pada kesehatan manusia.
Laksamana Pertama TNI Purn Dr Herjunianto SpPD., MMRS
Dekan Fakultas Kedokteran UKWMS
. "Keberadaan mikroplastik dalam sistem peredaran darah manusia bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan publik yang memerlukan penanganan medis dan kebijakan yang serius," ungkap Laksamana
Pertama TNI Purn. Dr. Herjunianto SpPD, MMRS, Dekan Fakultas Kedokteran UKWMS,
Senada
dengan hal tersebut, Dr. Yudhiakuari Sincihu, dr., M.Kes., FISPH., FISCM,
pakar dari UKWMS, menekankan pentingnya dasar ilmiah dalam kebijakan. "Kita membutuhkan riset biomarker yang lebih
mendalam untuk memahami bagaimana partikel ini berinteraksi dengan sel tubuh
kita. Tanpa data ilmiah yang kuat, intervensi kesehatan tidak akan efektif,"
jelasnya.
Rekomendasi
strategis ini menekankan pentingnya penguatan regulasi di mana pemerintah perlu
menetapkan standar nasional batas kontaminasi mikroplastik dan mempertegas aturan
Extended Producer Responsibility (EPR). Prigi Arisandi, M.Si,
Founder Ecoton, menambahkan bahwa produsen harus bertanggung jawab penuh.
"Produsen tidak bisa lagi lepas tangan. Mereka wajib bertanggung jawab
atas siklus hidup produk mereka agar plastik tidak terfragmentasi di alam dan
berakhir di aliran darah kita."
Sementara
itu, Dr. Roy Hendroko Setyobudi, M.Si dari UMM, memberikan penekanan
khusus pada sumber polusi mikroplastik yang selama ini sering terabaikan, yakni
abrasi ban kendaraan. Beliau merujuk pada data penelitian terbaru yang
menunjukkan bahwa 65% mikroplastik di udara perkotaan berasal dari abrasi ban
kendaraan. "Kita harus menyadari
bahwa polusi plastik tidak hanya berasal dari sampah kantong atau botol, tetapi
juga dari gesekan ban di jalan raya yang partikelnya terbang ke udara dan
terhirup. Industri otomotif dan infrastruktur jalan harus mulai
mempertimbangkan inovasi material yang lebih rendah emisi mikroplastik untuk
menekan angka kontaminasi udara yang masif ini," tegas Dr. Roy.
Dari
perspektif medis anak, Dr. dr. Ni. Putu Sudewi, MKes, SpA,
mengingatkan dampak jangka panjang pada generasi muda. "Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan
terhadap partikel yang terhirup maupun tertelan. Edukasi masyarakat untuk
mengurangi penggunaan plastik serta perlindungan kualitas udara menjadi langkah
pencegahan yang harus dilakukan sekarang juga."
Pencegahan
di tingkat hulu juga dipertegas oleh Sofi Azilan, S.Km., Peneliti
Ecoton. "Pemilahan sampah dari rumah tangga dan teknologi filtrasi pada
IPAL adalah benteng utama untuk mencegah plastik terdegradasi menjadi
mikroplastik di lingkungan sebelum masuk ke tubuh manusia."
Sesi Berbagi hasil penelitian mikroplastik
Keberhasilan
strategi ini bergantung pada kolaborasi multi-sektor. Dengan adanya platform
kolaborasi nasional, isu mikroplastik diharapkan dapat terintegrasi sepenuhnya
dalam kebijakan kesehatan lingkungan nasional demi melindungi kesehatan
masyarakat Indonesia saat ini dan di masa depan.
Rekomendasi ini disusun berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) Temuan Mikroplastik dalam Darah yang melibatkan para pakar terkemuka yang fokus pada riset-riset mikroplastik dan pengurangan plastik sekali pakai :
●
Laksamana
Pertama TNI Purn. Dr. Herjunianto SpPD, MMRS (Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya)
●
Dr.
Yudhiakuari Sincihu, dr., M.Kes., FISPH., FISCM (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik
Widya Mandala Surabaya)
●
Dr. Roy
Hendroko Setyobudi, M.Si (Peneliti
Universitas Muhammadiyah Malang)
●
Dr. Daru
Setyorini., Dipl EM., S.Si., M.Si (Direktur Eksekutif Ecoton)
●
Dr. dr.
Putu Sudewi, SpA (Dokter
Spesialis Anak)
●
Muhammad
Al-Irsyad, S.K.M., M.P.H. (Dosen
Prodi Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Malang)
●
Prigi
Arisandi, M.Si (Founder
Ecoton)
●
Rafika Aprilianti, S.si (Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton)
●
Sofi Azilan, S.Km. (Peneliti Ecoton)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar