Laboratorium Keliling kenalkan Bahaya Mikroplastik dan Aksi Tolak Plastik Sekali Pakai
Surabaya, 2 September 2026 — Mimo (Microplastic Mobile Laboratory) hadir untuk mendorong anak Muda mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sekaligus sebagai mobile environmental health laboratory. Melalui Mimo, siswa tidak hanya belajar mengenali pencemaran mikroplastik dan melakukan penelitian sederhana di lingkungan sekitar, tetapi juga diajak memahami serta mengelola kecemasan terhadap kerusakan lingkungan. Pendekatan ini mendorong siswa mengubah rasa takut, khawatir menjadi pengetahuan dan langka nyata untuk mereduksi kecemasan.
“Mimo mengedukasi anak tentang bahaya mikroplastik dan membantu anak memahami masalah, mengekspresikan kekhawatirannya, melakukan eksperimen, dan melihat bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk menjadi bagian dari solusi” Ungkap Sofi Azilan Aini, Aktivis River Warrior Indonesia yang ikut Membidani Lahirnya Mimo.
![]() |
| Perangkat Mikroplastik dan media Edukasi Mimo |
Menurut Erica Damayanti , Koordinator Projek Mimo Menjelaskan 3 Tujuan Utama Mimo :
1. Memberikan Pengetahuan tentang
mikroplastik, sumber-sumber mikroplastik dan dampak kesehatan mikroplastik bagi
manusia,
2. Memberikan ketrampilan anak muda cara
mendeteksi mikroplastik di kulit, di dalam air, diudara dan dipermukaan daun
dengan menggunakan mikroskop dan teknik-teknik pengambilan sample mikroplastik
di lingkungan
3. Memastikan anak muda bersikap
mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti makanan minuman dalam
sachet, gelas dan botol plastik, styrofoam, sedotan dan plastik pembungkus
makanan.
Mimo juga diharapkan mampu membuat anak muda
mempengaruhi teman, orang tua dan orang-orang di lingkungan mereka tinggal
untuk menggurangi penggunaan plastik sekali pakai sebagai sumber penyebaran
mikroplastik di lingkungan dan dalam tubuh manusia.
"Mimo
juga mengajak anak muda untuk menggunakan media sosial mengkampanyekan bahaya
penggunaan plastik sekali pakai untuk packaging makanan untuk masyarakat"
ungkap Khusnatul Khomsah, Lebih lanjut team Editor Jurnal Environmental Pollution
Journal ini menjelaskan bahwa Mimo diharapkan menjadi teman anak-anak muda
untuk melakukan aksi nyata dalam menghadapi krisis lingkungan akibat penggunaan
plastik sekali pakai
Mimo membangun
Empati
Dalam kegiatannya team Mimo akan mengajak anak muda belajar mengenal mikroplastik secara langsung di media lingkungan meliputi air, udara, permukaan daun dan permukaan kulit manusia. “Kami memiliki buku citizen science yang berisi panduan mengambil sampel mikroplastik dalam air sungai, di udara, permukaan daun dan permukaan kulit kemudian mengamatinya menggunakan peralatan Mikroplastik dengan pembesaran 400 hingga 1000 kali yang tersedia dalam mobil Laboratorium kami” ungkap Rafika Aprilianti, lebih lanjut Kepala laboratorium Mikroplastik Ecoton menjelaskan bahwa dalam Mobil Mimo dilengkapi dengan 10 Mikroskop portable, buku citizen science yang menjadi panduan penelitian, poster-poster tentang mikroplastik, lembar bermain dan buklet tentang bahaya mikroplastik dan tips hidup sehat tanpa plastik sekali pakai.
Gibran
Antusias Belajar Pertamakali menggunakan Mikroskop
Uji Coba Mimo dilakukan pada Senin 31 Agustus 2026 di depan SMPN 58 Surabaya di
tepi Aliran Kali tebu. Salah seorang siswa kelas 3 SD Negeri Tanah Kali
Kedinding merasa senang dengan kehadiran Mimo. Menurutnya, pembelajaran
mengenai mikroplastik menjadi lebih menarik karena dilakukan secara langsung
dan dikemas dengan kegiatan yang menyenangkan. “Seneng Mbak, ini hal baru bagi
kita, bisa main-main sambil belajar.” Ujar Gibran, lebih lanjut Siswa Kelas 3
SN Negeri Tanah Kali Kendinding. Gibran teman-temannya sangat antusias untuk
belajar kembali dengan Mimo, mereka ingin Mimo kembali dan belajar menggunakan
kembali menggunakan mikroskop.
Tak Kasat
Mata, ternyata nyata adanya
“Tadi aku ambil sampel air Kali Tebu depan
sekolahku, kelihatannya bersih, ternyata setelah dilihat di bawah mikroskop
banyak sampah mikroplastik dan kotoran-kotoran karena orang-orang masih banyak
yang buang sampah di Kali Tebu.” Ungkap Fikri, siswa kelas 6 SD Negeri Sidotopo
Wetan V, mengaku terkejut setelah melihat hasil pengamatan sampel air Kali
Tebu. Pengamatan mikroplastik memberikan pengalaman baru bagi siswa. Air Kali
Tebu yang secara kasatmata terlihat bersih ternyata dapat mengandung partikel
mikroplastik yang hanya dapat terlihat dengan bantuan mikroskop. Para siswa
juga diperkenalkan bahwa pencemaran plastik tidak hanya ditemukan di air
sungai, tetapi dapat ditemukan di lingkungan sekitar, termasuk pada daun dan
bahkan berpotensi menempel pada tubuh manusia.
Sudah
Terbiasa Membawa Tumblr ke Sekolah
Diakhir pertemuan tim peneliti Mimo mengajak peserta untuk menghentikan pencemaran mikroplastik di alam dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. “ kita harus mengurangi penggunaan 7 jenis plastik sekali pakai yaitu tas kresek, makanan sasetan, botol air minum dalam kemasan plastik, Styrofoam, mikrobeads dalam produk personal care, sedotan plastik dan gelas kertas atau gelas plastik” ungkap Khusnatul Khomsa. “Saat keluar rumah untuk mengurangi mikroplastik, perlu membawa tumbler dan tepak makan sendiri.” Ujar Carissa, lebih lanjut siswi kelas 6 SD Negeri Sidotopo Wetan V menjelaskan bahwa di sekolag sudah membiasakan membawa tumbler saat sekolah, Tak hanya untuk kepentingan sendiri, Carissa juga mengajak teman-temannya untuk melakukan kebiasaan yang sama.
“Sekolah, komunitas dan kampung-kampung di Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Mojokerto bisa mengundang Mimo untuk bersuka ria mengenal mikroplastik sambil menyusun aksi pengurangan plastik sekali pakai” Ungkap Erica sambil menjelaskan bahwa Mimo bisa dihubungi melalui WA 082143181286.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar