Selasa, 11 Agustus 2026

Mikroplastik Memanaskan Bulukumba di Tengah El Niño

Tim Peneliti Festival 3 Sungai Bulukumban, menempatkan alat uji
Penangkap Mikroplastik udara di depan kantor Bupati Bulukumba
Selasa (10/8/2026)

Ancaman El Nino mulai dirasakan masyarakat Indonesia, di Pulau Jawa beberapa daerah mengalami kekeringan dan peningkatan suhu udara. Di Bulukumba ancaman ini bertambah serius saat team peneliti Ecoton dan Aliansi Festival 3 Sungai Bulukumba menemukan tingginya kadar kontaminasi mikroplastik di Udara Bulukumba.  10-11 Agustus 2026 Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan (Basah) bersama aliansi komunitas Festival 3 Sungai Bulukumba melakukan penelitian kontaminasi mikroplastik di Udara Kota Bulukumba dan menemukan bahwa udara kota Bulukumba telah tercemar Mikroplastik, bahkan jika dibandingkan penelitian serupa pada September 2025 kondisi tahun ini jumlah partikel mikroplastiknya meningkat 5 kali lipat. “dari 6 lokasi yang kami uji kadar mikroplastiknya rata-rata 10 partikel mikroplastik dalam 1 jam, sedangkan penelitian tahun 2025 hanya ditemukan 2 partikel mikroplastik per jam” ungkap Sofi Azilan Aini, lebih lanjut peneliti mikroplastik Ecoton ini menyebutkan 6 lokasi penelitian tahun 2026 meliputi : Jalan Panjaitan, Taman Kota, Depan Kantor Bupati Bulukumba, depan Kantor DPRD Bulukumba, Pantai Merpati dan Desa Kahayya sebagai control.

Dari 6 Lokasi Penelitian ditemukan bahwa di depan kantor Bupati Bulukumba dan Kawasan Taman Kota Bulukumba kontaminasi Mikroplastik mencapai 15 partikel Mikroplastik per jam.  “untuk menangkap mikroplastik diudara kami menggunakan Tisu basah dalam cawan petri dan meletakkan di enam lokasi selam satu jam, kemudian memeriksa dengan mikroskop digital dengan pembesaran 1000kali” ungkap Aidil Faidzin lebih lanjut Juru Bicara Panitia Festival 3 Sungai menjelaskan bahwa jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan di Bulukumba adalah jenis partikel fragmen sebanyak 28 di enam lokasi, jenis mikroplastik terbanyak kedua adalah  fiber 21 di enam lokasi. Jenis fragmen ini berasal dari serpihan ban atau aktivitas transportasi dan sisa pembakaran sampah plastik atau fragmentasi sampah plastik yang dibuang sembarangan di ruang terbuka. Sedangkan untuk sumber fiber berasal dari tekstil atau serat pakaian yang mengalami gesekan.


Fragment Banyak ditemukan di Depan Kantor Bupati kawasan tersebut memiliki aktivitas manusia dan kendaraan tinggi, sampah bungkus makanan/minuman kemasan, serta keberadaan berbagai material plastik. Fiber kemungkinan besar berkaitan dengan aktivitas manusia. Serat sintetis—terutama polyester/PET—merupakan salah satu sumber penting pencemaran udara oleh mikroplastik. Pelepasan dapat terjadi ketika pakaian, tekstil, karpet, upholstery/jok, hingga pembakaran sampah atau material sintetis mengalami gesekan dan degradasi. Foam  ditemukan di Taman Kota. Berasal dari styrofoam yang digunakan sebagai wadah makanan dan kemasan dapat terfragmentasi akibat paparan matahari, gelombang, abrasi pasir, dan aktivitas manusia.

Buruknya Pengelolaan Sampah

Tingginya kontaminasi mikroplastik di udara kota Bulukumba bisa disebabkan oleh banyaknya sampah plastik yang tercecer dilingkungan. “Dalam pantauan kami sampah plastik seperti tas plastik, popok, sachet, styrofoam  dan beragam sampah plastik sekali pakai dibuang sembarangan di dalam sungai, ditepi jalan, semak-semak saluran air, di tepi jalan  Ungkap Hermayanto, Lebih lanjut aktivis lingkungan Lingkar observasi pendidikan Lingkungan (LOPI) Bulukumba menjelaskan bahwa buruknya system pengelolaan sampah dan minimnya sarana infrastruktur sampah membuat masyarakat Bulukumba membuang sampah sembarangan bahwan di sungai-sungai Utama Kabupaten Bulukumba. “hasil investigasi tim Ecoton dan aktivis lingkungan pendukung Festival 3 Sungai menemukan 3 sungai utama di Bulukumba, sungai Bialo, Sungai Bijawang dan Sungai Balantieng saat ini darurat sampah plastik” ungkap Amirudin Mutaqin, lebih lanjut Peneliti Ecoton ini menjelaskan bahwa sungai-sungai di Bulukumba harusnya menjadi sumber kehidupan bukan tempat sampah, sampah-sampah yang dibuang sembarangan terpapar matahari dan mengalami proses fragmentasi yang akhirnya berubah menjadi mikroplastik dan mencemari udara. “Ditambah lagi kegiatan pembakaran sampah plastik semakin membuat udara Bulukumba tercemar mikroplastik,” ungkap Amirudin Muttaqin, lebih lanjut alumni Wageningen University The Netherlands ini menjelaskan bahwa sampah plastik yang dibakar secara tidak sempurna akan menjelma menjadi mikroplastik.

Penelitian Pencemaran Mikroplastik di Udara menunjukkan sumber outdoor dapat berasal dari

1.       Aktivitas transportasi yang berasal dari gesekan karet ban dengan aspal

2.       degradasi material plastik,

3.       pembakaran sampah plastik,

4.       Sedangkan fiber sangat sering dikaitkan dengan tekstil sintetis.

 Dampak Kesehatan

Sofi Azilan Aini memberikan penjelasan tentang Mikroplastik

Secara biologis, beberapa mekanisme yang perlu diwaspadai adalah: Partikel Mikroplastik dapat berinteraksi dengan epitel saluran napas dan memicu respons inflamasi atau peradangan berakibat iritasi ringan dan reaksi imun menyebab stress oksidatif yang bisa memicu kematian sel dan tidak berfungsinya imun tubuh. “Pada kasus tertentu masuknya mikroplastik kedalam tubuh dapat mempengaruhi hormone, padahal tubuh manusia dikendalikan oleh hormone”ungkap Sofi Azilan aini, lebih lanjut Alumni fakultas kesehatan masyarakat Universitas NU Surabaya ini menjelaskan bahwa gangguan hormone bisa menyebabkan diabetes mellitus, gangguan menstruasi dan gangguan kesuburan pria maupun wanita.

 

Rekomendasi

1.       Penyediaan sarana tempat sampah sehingga masyarakat tidak membuang sampah sembarangan terutama kebadan air

2.       Penegakan hukum yang tegas dengan memberikan sanksi bagi pelaku pembakaran sampah plastik, dalam UU pengelolaan Sampah 18/2008 mengatur larangan aktivitas pembakaran sampah

3.       Peraturan Daerah yang mengurangi penggunaan plastik sekali pakai

4.       Uji mikroplastik di udara secara berkala

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer