Senin, 03 Agustus 2026

Cegah Polusi Plastik Ke Laut Ecoton Luncurkan Microplastic Journey, Mobil Laboratorium Mikroplastik Pertama di Dunia


Surabaya (2/8) Rofi Alhanif, Asisten Deputi Bidang Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan
di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Aza Wee Sile senior manager Komunikasi Clean River
Uni Emirate Arab, bersama founcder Ecoton berpose di mobil laboratorium Mikroplastik
"Polusi plastik bukan lagi masalah yang jauh dari kehidupan kita, tetapi tantangan global yang berdampak langsung pada kesehatan manusia. Pengurangan penggunaan plastik dan pengelolaan sampah yang lebih baik harus menjadi tanggung jawab bersama melalui kolaborasi lintas negara, pemerintah, organisasi, dan masyarakat." Ungkap Reinier van der Lely yang terkejut setelah menemukan partikel mikroplastik pada permukaan tangannya saat mengikuti demonstrasi di Mobil laboratorium Mikroplastik, Reinire adalah profesional di bidang pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular yang bekerja sebagai Associate Director / Program Manager di Clean Rivers.

Surabaya, 3 Agustus 2026 – Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) resmi meluncurkan Mobil Laboratorium Mikroplastik "Microplastic Journey", laboratorium edukasi keliling pertama di Indonesia yang mengajak masyarakat mengenal mikroplastik secara langsung sekaligus mendorong upaya pencegahan sampah plastik sebelum mencemari sungai dan laut. Peluncuran dilakukan di Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya, sebagai bagian dari Program  MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) dalam rangka Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution Kali Tebu Surabaya.

Sofi Azilan Aini menjelaskan tentang cara masuk mikroplastik kedalam tubuh
manusia melalui 3 cara, kegiatan ini dilakukan dalam launching
Mobil Laboratorium Mikroplastik Minggu (2/8) di Tanah kali kedinding
Surabaya.

Program ini merupakan kolaborasi  Ecoton Foundation dengan UNDP Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Kementerian Lingkungan Hidup, dan Organisasi Non {rofit dari Uni Emirate Arab Clean Rivers, dalam memperkuat upaya pencegahan pencemaran plastik dari daratan melalui sungai sebelum akhirnya bermuara ke laut. Kenjeran dipilih sebagai lokasi peluncuran karena merupakan kawasan pesisir yang menjadi muara berbagai aliran sungai. Sampah plastik yang terbawa sungai akan terurai menjadi mikroplastik akibat paparan sinar matahari, gelombang, dan proses alam lainnya, kemudian mencemari ekosistem laut serta berpotensi masuk kembali ke tubuh manusia melalui rantai makanan.

Laboratorium Edukasi Mitigasi Mikroplastik

Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, melayani
Pengunjung untuk identifikasi jenis mikroplastik menggunakan mikroskop

Microplastic Journey
merupakan laboratorium bergerak yang membawa pengalaman belajar langsung kepada masyarakat, mulai dari siswa TK hingga SMA/SMK, mahasiswa, komunitas, instansi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat umum. Mobil laboratorium ini dilengkapi : 1. mikroskop stereo dan benerapa mikroskop portable, 2. ⁠peralatan preparasi dan analisis mikroplastik, 3. ⁠alat uji kualitas air dan udara, 4. ⁠serta berbagai media edukasi dan games dalam pemahaman pentingnya pemilahan sampah koservasi sungai dan pengurangan plastik sekali pakai

Melalui pendekatan learning by doing, peserta dapat mengamati mikroplastik secara langsung, mencoba praktik sederhana analisis mikroplastik dan pengujian kualitas lingkungan, mengenal berbagai jenis mikroplastik beserta sumber pencemarannya, serta mengikuti kegiatan *citizen science* untuk memahami kondisi lingkungan di sekitar mereka. Melalui pengalaman tersebut, masyarakat diajak memahami bahwa pencemaran mikroplastik dapat dicegah sejak sumbernya, yaitu dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membuang sampah ke sungai, tidak membakar sampah, serta mengelola sampah dengan benar agar tidak berakhir di laut.

Melalui Microplastic Journey, Ecoton Foundation  bersama para mitra mengajak masyarakat menerapkan langkah sederhana untuk mengurangi pencemaran plastik, antara lain: 1.  Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. 2. Tidak membuang sampah ke sungai maupun saluran air. 3. Tidak membakar sampah karena menghasilkan partikel dan zat berbahaya, 4. Memilah dan mengelola sampah dengan benar dan 5. Berpartisipasi menjaga sungai agar tetap bersih sehingga tidak menjadi jalur masuk sampah ke laut.

"Everyone is a Scientist, Everyone is an Activist."

Rofi Alhanif melihat mikroplastik di kulit, dengan menggunakan mikroskop
stereo. Dalam mobil laboratorium Mikroplastik Ecoton, pengunjung bisa 
mendeteksi mikroplastik dalam air, udara dan tubuh.

Melalui pengalaman belajar secara langsung, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami bahaya mikroplastik, tetapi juga terdorong menjadi bagian dari solusi untuk menghentikan kebocoran sampah plastik ke lingkungan. Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fitrah Tanah Kali Kedinding, Rudi, menyambut baik kehadiran Mobil Laboratorium Mikroplastik sebagai media pembelajaran yang dekat dengan masyarakat. "Edukasi seperti ini sangat penting dikenalkan kepada para santri sejak dini. Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Ecoton agar para santri tidak hanya memahami persoalan mikroplastik secara teori, tetapi juga melihat langsung buktinya melalui laboratorium ini. Harapannya, mereka menjadi generasi yang peduli lingkungan dan mampu mengajak masyarakat mengurangi sampah plastik serta menjaga kebersihan sungai."

 "Saya tidak menyangka di tangan saya ditemukan mikroplastik jenis film yang salah satunya berasal dari plastik kresek. Dari sini saya jadi tahu bahwa mikroplastik ada di sekitar kita, bahkan bisa menempel di tubuh kita” Ungkap Erlyta lebih lanjut siswi kelas VIII SMP Negeri 58 Surabaya mengaku jadi paham bahwa membakar sampah bukan solusi karena menghasilkan partikel dan zat berbahaya dan berusaha untuk mengurangi penggunaan plastik dan tidak membakar sampah

Perwakilan Dinas Kesehatan Kota Surabaya Melalui Nurifa Handayani, SKM., M.KL, mengapresiasi inovasi edukasi yang dilakukan Ecoton Foundation.  "Mobil Laboratorium Mikroplastik menjadi sarana edukasi yang sangat menarik karena masyarakat dapat melihat langsung keberadaan mikroplastik di sekitar mereka. Harapannya, kesadaran masyarakat semakin meningkat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan manusia dan lingkungan." Ungkap Nurifa Ketua Tim Kerja Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

Peluncuran Microplastic Journey diharapkan menjadi langkah awal memperluas edukasi mengenai mikroplastik ke berbagai daerah di Indonesia. Dengan semakin banyak masyarakat yang memahami hubungan antara sampah plastik, sungai, laut, dan kesehatan manusia, diharapkan semakin besar pula gerakan bersama untuk mencegah sampah plastik masuk ke lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer