Surabaya, 3 Agustus 2026 – Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) resmi meluncurkan Mobil Laboratorium Mikroplastik "Microplastic Journey", laboratorium edukasi keliling pertama di Indonesia yang mengajak masyarakat mengenal mikroplastik secara langsung sekaligus mendorong upaya pencegahan sampah plastik sebelum mencemari sungai dan laut. Peluncuran dilakukan di Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya, sebagai bagian dari Program MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) dalam rangka Partnership for Preventing Riverine Plastic Pollution Kali Tebu Surabaya.
Program
ini merupakan kolaborasi Ecoton
Foundation dengan UNDP Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pangan,
Pemerintah Kota Surabaya, Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Tim Koordinasi
Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL), Kementerian Lingkungan Hidup, dan
Organisasi Non {rofit dari Uni Emirate Arab Clean
Rivers, dalam memperkuat upaya pencegahan pencemaran plastik dari daratan
melalui sungai sebelum akhirnya bermuara ke laut. Kenjeran dipilih sebagai
lokasi peluncuran karena merupakan kawasan pesisir yang menjadi muara berbagai
aliran sungai. Sampah plastik yang terbawa sungai akan terurai menjadi
mikroplastik akibat paparan sinar matahari, gelombang, dan proses alam lainnya,
kemudian mencemari ekosistem laut serta berpotensi masuk kembali ke tubuh
manusia melalui rantai makanan.
Laboratorium Edukasi
Mitigasi Mikroplastik
![]() |
| Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, melayani Pengunjung untuk identifikasi jenis mikroplastik menggunakan mikroskop |
Microplastic Journey merupakan laboratorium bergerak yang membawa pengalaman belajar langsung kepada masyarakat, mulai dari siswa TK hingga SMA/SMK, mahasiswa, komunitas, instansi pemerintah, perusahaan, dan masyarakat umum. Mobil laboratorium ini dilengkapi : 1. mikroskop stereo dan benerapa mikroskop portable, 2. peralatan preparasi dan analisis mikroplastik, 3. alat uji kualitas air dan udara, 4. serta berbagai media edukasi dan games dalam pemahaman pentingnya pemilahan sampah koservasi sungai dan pengurangan plastik sekali pakai
Melalui
pendekatan learning by doing, peserta dapat mengamati mikroplastik secara
langsung, mencoba praktik sederhana analisis mikroplastik dan pengujian
kualitas lingkungan, mengenal berbagai jenis mikroplastik beserta sumber
pencemarannya, serta mengikuti kegiatan *citizen science* untuk memahami kondisi
lingkungan di sekitar mereka. Melalui pengalaman tersebut, masyarakat diajak
memahami bahwa pencemaran mikroplastik dapat dicegah sejak sumbernya, yaitu
dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membuang sampah ke
sungai, tidak membakar sampah, serta mengelola sampah dengan benar agar tidak
berakhir di laut.
Melalui
Microplastic Journey, Ecoton
Foundation bersama para mitra mengajak
masyarakat menerapkan langkah sederhana untuk mengurangi pencemaran plastik,
antara lain: 1. Mengurangi penggunaan plastik
sekali pakai. 2. Tidak membuang sampah ke sungai maupun saluran air. 3. Tidak
membakar sampah karena menghasilkan partikel dan zat berbahaya, 4. Memilah dan
mengelola sampah dengan benar dan 5. Berpartisipasi menjaga sungai agar tetap
bersih sehingga tidak menjadi jalur masuk sampah ke laut.
"Everyone is a Scientist, Everyone is an
Activist."
![]() |
| Rofi Alhanif melihat mikroplastik di kulit, dengan menggunakan mikroskop stereo. Dalam mobil laboratorium Mikroplastik Ecoton, pengunjung bisa mendeteksi mikroplastik dalam air, udara dan tubuh. |
Melalui pengalaman belajar secara langsung, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami bahaya mikroplastik, tetapi juga terdorong menjadi bagian dari solusi untuk menghentikan kebocoran sampah plastik ke lingkungan. Pengasuh Pondok Pesantren Assalafi Al Fitrah Tanah Kali Kedinding, Rudi, menyambut baik kehadiran Mobil Laboratorium Mikroplastik sebagai media pembelajaran yang dekat dengan masyarakat. "Edukasi seperti ini sangat penting dikenalkan kepada para santri sejak dini. Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Ecoton agar para santri tidak hanya memahami persoalan mikroplastik secara teori, tetapi juga melihat langsung buktinya melalui laboratorium ini. Harapannya, mereka menjadi generasi yang peduli lingkungan dan mampu mengajak masyarakat mengurangi sampah plastik serta menjaga kebersihan sungai."
"Saya
tidak menyangka di tangan saya ditemukan mikroplastik jenis film yang salah
satunya berasal dari plastik kresek. Dari sini saya jadi tahu bahwa
mikroplastik ada di sekitar kita, bahkan bisa menempel di tubuh kita”
Ungkap Erlyta lebih lanjut siswi kelas VIII SMP Negeri 58 Surabaya mengaku jadi
paham bahwa membakar sampah bukan solusi karena menghasilkan partikel dan zat
berbahaya dan berusaha untuk mengurangi penggunaan plastik dan tidak membakar
sampah
Perwakilan
Dinas Kesehatan Kota Surabaya Melalui Nurifa Handayani, SKM., M.KL,
mengapresiasi inovasi edukasi yang dilakukan Ecoton Foundation. "Mobil
Laboratorium Mikroplastik menjadi sarana edukasi yang sangat menarik karena
masyarakat dapat melihat langsung keberadaan mikroplastik di sekitar mereka.
Harapannya, kesadaran masyarakat semakin meningkat untuk mengurangi penggunaan
plastik sekali pakai sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan manusia dan
lingkungan." Ungkap Nurifa Ketua Tim Kerja Kesehatan Lingkungan,
Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan Kota Surabaya.
Peluncuran
Microplastic Journey diharapkan
menjadi langkah awal memperluas edukasi mengenai mikroplastik ke berbagai
daerah di Indonesia. Dengan semakin banyak masyarakat yang memahami hubungan
antara sampah plastik, sungai, laut, dan kesehatan manusia, diharapkan semakin
besar pula gerakan bersama untuk mencegah sampah plastik masuk ke lingkungan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar