
Siswi SMPN 58 Menunjuk mikroplastik jenis fiber dalam mikroskop.
Mikroplastik ditemukan dalam air kali tebu, dalam kegiatan
Sosialisasi dan penelitian bersama Ecoton di Kali Tebu (Senin 19/5/2026)
"Pada sampel air Sungai Kali Tebu sebanyak 10 liter, yaitu 19 partikel mikroplastik yang terdiri dari 12 fiber, 2 filamen, dan 5 fragmen"
Temukan Mikroplastik dalam air Kali Tebu dan Udara di Platuk Donomulyo, Pelajar SMPN 58 Surabaya di dorong untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai untuk mengurangi dampak kesehatan yang akan terjadi, mengingat keberadaan mikroplastik dalam air dan udara akan masuk kedalam tubuh manusia. “Kegiatan penelitian di Kali tebu yang menemukan mikroplastik kami harap bisa membuat anak-anak bisa lebih sadar terhadap dampak bahaya plastik sekali pakai, sehingga terbentuk kebiasaan untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah bahkan juga di rumah. Ini juga sejalan dengan visi sekolah,” ujar Ika Karyanti, lebih lanjut Guru SMPN 58 ini.

Dhito Mahasiswa Ilmu Kelautan UINSA Surabaya mendampingi Pelajar
SMPN 58 Mengambil sample air Kali Tebu untuk diuji kadar Mikroplastik
Senin (19/5/2026)
Surabaya (19/05) –
(Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah) Ecoton bersama Bumbi
menggelar kegiatan edukasi dan sosialisasi tentang bahaya mikroplastik serta
pentingnya gaya hidup menggurangi penggunaan plastik sekali pakai dan guna
ulang di SMPN 58 Platuk Kecamatan Kenjeran Surabaya. Kegiatan ini diikuti oleh
50 siswa kader lingkungan sekolah sebagai upaya membangun kesadaran generasi
muda terhadap ancaman pencemaran plastik dan mikroplastik bagi kesehatan
manusia serta lingkungan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program MOZAIK (Mission
on Zero Plastic Leakage) yang diinisiasi oleh Ecoton dengan kolaborasi
multipihak untuk mendorong pengurangan kebocoran sampah plastik ke lingkungan
dan sungai melalui edukasi, perubahan perilaku, serta pelibatan masyarakat dan
sekolah untuk Menjaga Kebersihan Kali Tebu. Alaika
Rahmatullah dari ECOTON menyampaikan anak-anak perlu terlibat dalam menjaga
sungai terutama di Kali Tebu supaya bebas dari kebocoran sampah plastik,
kondisi di Kali Tebu saat ini sangat memprihatinkan dan masih menghadapi
persoalan serius akibat pencemaran sampah plastik, popok sekali pakai hingga
praktik pembakaran sampah di sekitar sungai.
“Setiap hari tim kami juga berpatroli sekaligus
mengevakuasi sampah-sampah di badan air sungai, rata-rata per hari kami
mendapatkan 1 ton sampah sungai, yang paling bermasalah adalah sampah plastik,
popok, styrofoam. Padahal sampah tersebut bisa terpecah menjadi partikel
mikroplastik, hingga pada akhirnya dapat
masuk ke tubuh manusia melalui air, udara, dan rantai makanan. Dampaknya sangat
berbahaya dapat memicu gangguan hormon, peradangan, gangguan reproduksi, hingga
risiko kanker” tegasnya.
Edukasi Mikroplastik Pelajar SMP Sekitar Kali Tebu

Alaika Rahmatullah memberikan penjelasan tentang bahaya Kesehatan
Mikroplastik pada Pelajar SMPN 58 Surabaya
“Kami ingin membangun kesadaran anak-anak untuk
mengurangi plastik sekali pakai sejak dini. Sekolah juga bisa mengadopsi sungai
untuk ikut menjaga agar sungai bebas dari sampah,” jelas Alaika.
Kegiatan edukasi ini diawali dengan sesi sosialisasi tentang bahaya
mikroplastik dan gaya hidup guna ulang, dilanjutkan pembagian reusable
menstrual pads kepada siswa, serta praktikum lapangan untuk mengidentifikasi
mikroplastik pada berbagai sampel lingkungan, mulai dari air sungai, air kran,
udara, hingga daun di sekitar sekolah dan Kali Tebu. Dalam praktikum tersebut,
pengambilan sampel air dilakukan sebanyak 10 liter untuk masing-masing titik
sampling, sementara pengambilan sampel udara dilakukan selama 2 jam menggunakan
metode passive sampling. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa partikel
mikroplastik ditemukan di hampir seluruh sampel yang diuji, menandakan
pencemaran mikroplastik telah menyebar luas di lingkungan sekitar sekolah dan
sungai.
Hasil identifikasi mikroplastik menunjukkan bahwa pencemaran partikel plastik berukuran kecil telah ditemukan di berbagai sampel lingkungan di sekitar sekolah dan Kali Tebu. Pada sampel air kran sebanyak 10 liter ditemukan masing-masing 2 partikel filamen dan 2 partikel fiber. Sementara pada daun mangga di lingkungan sekolah ditemukan 8 partikel fiber yang menunjukkan mikroplastik juga dapat menempel pada permukaan tumbuhan melalui paparan udara. Pada pengambilan sampel udara selama 2 jam di lingkungan sekolah ditemukan 6 partikel fiber. Sedangkan di udara sekitar Kali Tebu ditemukan total 8 partikel mikroplastik yang terdiri dari 1 fragmen, 6 fiber, dan 1 granule. Hasil tertinggi ditemukan pada sampel air Sungai Kali Tebu sebanyak 10 liter, yaitu 19 partikel mikroplastik yang terdiri dari 12 fiber, 2 filamen, dan 5 fragmen. Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya mencemari sungai, tetapi juga telah berada di udara yang dihirup sehari-hari dan lingkungan sekitar sekolah. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa manusia dapat terpapar mikroplastik melalui berbagai jalur, baik dari air minum, makanan, maupun udara. Oleh karena itu, ECOTON dan Bumbi mendorong adanya perubahan gaya hidup masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memperkuat budaya guna ulang, serta meningkatkan kepedulian terhadap kondisi sungai sebagai sumber kehidupan
Narahubung- 082226655636 - Alaika ECOTON
Tidak ada komentar:
Posting Komentar