Minggu, 22 Februari 2026

MIKROPLASTIK DALAM KETUBAN BUKTI KUTUKAN SAMPAH PLASTIK SEKALI PAKAI MAKIN NYATA


 “ Riset mikroplastik Ecoton sejak 2017 hingga kini telah mendeteksi adanya mikroplastik dalam feses, Air Susu ibu, air seni, ketuban dan  dalam darah perempuan, ini seperti kutukan akibat kita menyia-nyiakan sampah plastik, pemakaian plastik sekali pakai dan membuang tanpa pengolahan yang layak pada akhirnya plastik yang kita buang akan kembali ketubuh kita” ungkap Sofi Azilan Aini, lebih lanjut peneliti Mikroplastik Ecoton ini menjelaskan bahwa Indonesia saat ini menjadi negara penyumbang sampah plastik kelautan global tertinggi ketiga setelah India dan Nigeria, kebiasaan membakar sampah dan membuang sampah ke sungai menjadikan sungai, udara dan air hujan telah tercemar mikroplastik, bahkan penduduk Indonesia merupakan manusia yang paling banyak mengkonsumsi mikroplastik, sekitar 15 gram perbulan. Infiltrasi mikroplastik dalam darah adalah yang paling mengkhawatirkan terhadap ancaman kesehatan masa depan Indonesia, karena masuknya mikroplastik ke aliran darah dan berpotensi menetap di organ-organ vital akan menimbulkan kerusakan sel dan tidak berfungsinya organ vital untui kelangsungan hidup manusia.

Hari peduli sampah Nasional

Setiap 21 Februari diperingati sebagai hari peduli sampah Nasional (HPSN), mengingat tragedy longsornya tumpukan sampah di TPA Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat pada 21 Februari 2005 silam. Tragedi ini menewaskan 157 jiwa akibat pengelolaan sampah yang sembrono, dan menjadi dasar penetapan HPSN melalui Kepres RI No 21 tahun 2018.

Rafika Aprilianti Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton

Dua puluh tahun lebih sejak tragedi TPA Leuwigajah namun pemerintah Indonesia tidak pernah belajar, pemerintah masih berkutat pada Masalah utama pada besarnya volume sampah, ketergantungan pada open dumping, lemahnya pengelolaan di hulu, dan ketidak mampuan Pemerintah dalam menertibkan perilaku masyarakat.

Data terakhir dari Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa pada 2023, timbunan sampah nasional telah menyentuh angka 31,9 juta ton, di mana 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola dan lebih dari 7,8 juta ton merupakan sampah plastik, dengan sebagian besar belum tertangani secara layak dan masih dikelola melalui pembakaran (57%), pembuangan sembarangan, atau penimbunan tanpa pengolahan memadai. Di tingkat lokal, berbagai wilayah di Jawa Timur juga menghadapi persoalan serupa, termasuk tingginya kontribusi sampah plastik terhadap total timbulan sampah harian. Kondisi ini berpotensi meningkatkan paparan mikroplastik pada manusia.

Kutukan Mikroplastik Dalam Darah


Ecoton bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melakukan deteksi Mikroplastik pada Perempuan di Gresik dan menemukan 100% mengandung mikroplastik. Jumlah partikel 2-18 partikel/ml. Seluruh partikel yang terdeteksi dipastikan berukuran lebih besar dari 0,45 µm. Jenis mikroplastik yang ditemukan adalah Fiber dan Fragmen. Analisis polimer yang telah dilakukan pada 5 sampel menunjukkan keberadaan polyethylene (PE) pada 4 sampel dan poly(n-butyl methacrylate) (PBMA) pada 1 sampel. PE merupakan polimer yang banyak digunakan dalam kemasan plastik, sedangkan PBMA umum digunakan pada pelapis, perekat, dan aplikasi tertentu termasuk biomedis.

Mikroplastik Dalam Ketuban

“kami telah melakukan uji terhadap 42 amnion atau air ketuban ibu melahirkan di Gresik dan 100% mengandung mikroplastik, jenis polimer yang mendominasi adalah jenis Polyethylene berasal dari botol plastik air minum dalam kemasan, plastik bening wadah makanan panas, tas kresek, gelas plastik” ungkap Rafika Aprilianti, lebih lanjut kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton ini menjelaskan bahwa saat ini telah datang era baru yaitu era Mikroplastik karena Rahim yang menjadi tempat yang paling aman bagi umat manusia saat ini telah tercemar mikroplastik. Riset Ecoton bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Woonjin Institut ini juga menyimpulkan bahwa kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai untuk wadah makanan dan minuman meningkatkan resiko paparan mikroplastik dalam tubuh. “Ditemukannya mikroplastik dalam ketuban ini akan berdampak pada pertumbuhan dan  perkembangan bayi,”Ungkap Rafika, karena ada korelasi antara adanya mikroplastik dengan meningkatnya nilai Malondialdehide (MDA) penanda peradangan (inflamasi), meningkatnya peradangan tersebut menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan calon bayi

Otak Manusia Tercemar Mikroplastik

Berdasarkan temuan penelitian kolaboratif antara Greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada Maret 2025  keberadaan mikroplastik yang terdeteksi dalam jaringan otak manusia diduga berpotensi mengganggu fungsi saraf dan berisiko menurunkan kemampuan kognitif secara bertahap akibat paparan partikel asing dan zat kimia toksik yang dibawanya. Penelitian ini merujuk pada riset di New Meksiko 2024 yang mengungkapkan terjadinya penumpukkan mikroplastik (ukuran di bawah 5 mm) dan nanoplastik (1 hingga 1000 nanometer) menumpuk di otak manusia dengan konsentrasi yang jauh lebih tinggi—sekitar 7 hingga 30 kali lipat—dibandingkan pada organ hati dan ginjal. Konsentrasi plastik pada sampel otak tahun 2024 ditemukan meningkat hingga 50% dibandingkan sampel dari tahun 2016. Matthew Campen, profesor ilmu farmasi dari University of New Mexico, menyebut fenomena ini sebagai cerminan dari penumpukan lingkungan yang semakin ekstrem, mengingat produksi plastik global kini melampaui 300 juta ton per tahun dengan 2,5 juta ton di antaranya mengapung di lautan.

Plastik tidak seharusnya berada dalam tubuh manusia, namun faktanya remahan kecil plastik telah masuk kedalam Rahim, tempat yang sebelumnya dianggap aman.   Langka pencegahan adalah dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghindari kontak langsung dengan udara yang saat ini telah terkontaminasi mikroplastik. “Sebagai gen Z kita harus mau menghindari produk kosmetik yang mengandung scrub plastik, karena mikroplastik bisa masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, melalui mulut dan melalui kulit” ungkap Sofi Azilan aini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Populer